Kamis, 07 Maret 2013

Yahoo! Pantomim dan Ruang Publik



Pantomim dan Ruang Publik
Oleh Tarlen Handayani | Newsroom Blog – Jum, 22 Feb 2013
Oleh Tarlen Handayani dan Adim

Anda ingat Den Bagus? Atau mungkin Charlie Chaplin? Mereka berdua adalah karakter dunia seni pertunjukan pantomim. Meski Den Bagus dan Charlie Chaplin lahir di negara berbeda, mereka sama-sama mengandalkan kemampuan olah tubuh dan mimik pesan dalam menyampaikan pesan. Seperti bermain teater tapi tanpa dialog.

Mari berkenalan dengan Wanggi Hoediyatno Boediardjo, salah seorang aktor pantomim di Bandung. Wanggi Hoed, demikian ia biasa dipanggil, sudah bergelut dengan pantomim selama tujuh tahun. Ia mempelajari pantomim secara otodidak. Selain membuka-buka internet dan menonton You Tube, dia juga membaca referensi dari buku. Salah satunya dari buku “The Art of Pantomime” karya Charles Aubert yang ditulis pada tahun 1970.

Wanggi, pria kelahiran Palimanan, Cirebon tanggal 24 Mei 1988 ini cenderung memilih ruang-ruang publik sebagai panggung pertunjukannya. Alasannya? “Biar pantomim itu terasa di masyarakat,” ujarnya.

Alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia ini percaya pantomim bisa memberikan hiburan sekaligus pencerahan. Medianya bisa berupa panggung sekaligus ruang-ruang publik seperti taman kota, trotoar, hingga pusat-pusat perbelanjaan. “Selain melihat, penonton juga bisa berinteraksi langsung. Hal ini penting agar mereka merasa dekat,” kata Wanggi.

Wanggi sadar, penonton pantomim di ruang publik berbeda dengan penonton di gedung pertunjukan, yang memang datang karena tertarik. Maka itu, tema-tema yang diangkat Wanggi tidak lepas dari isu sosial budaya yang ada di masyarakat.

Misalnya saja pembangunan Bandung yang tidak mengindahkan keberadaan bangunan-bangunan tua. Dengan mengusung repertoar bertajuk “Berjalan Menepi yang Tak Berarti”, Wanggi bermain pantomim di depan Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Bandung. Dia seolah-olah berjalan melawan arus. Karena tidak kuat, akhirnya dia menepi dan terus menepi. Arus deras itu diibaratkan globalisasi.

Wanggi membayangkan segala yang ada di sekelilingnya, mulai dari jalanan, mobil-mobil, bangunan, dan orang-orang tidak ubahnya sebuah bentuk nyata industrialisasi dan budaya konsumerisme. “Saya coba melawan dengan segenap daya. Bukan dengan menabrak tapi memahami,” kata dia.

Kegelisahan soal dunia kesehatan juga mendorongnya untuk tampil di muka umum.

Mengambil momen Hari Gizi Sedunia 25 Januari, Wanggi mengusung repertoar “MIMeditation”. Kali ini lokasinya tepat di depan Gedung Sate yang merupakan kantor Gubernur Jawa Barat.

Mengenakan iket berwarna putih, Wanggi menjadi sosok yang gemar sekali mencicipi cokelat. Selepas mencicipi cokelat, tubuh dan wajahnya terlihat tenang. Sesekali dia tersenyum sembari tertidur.

Mungkin begitu cara Wanggi melupakan masalah yang ada di depan mata. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka kematian ibu dan anak di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga. Diperkirakan tak kurang dari 9.500 ibu meninggal saat melahirkan serta 157.000 bayi dan 200.000 anak balita meninggal setiap tahun.

“Ini tidak lepas dari peran sosialisasi pemerintah yang kurang terhadap masyarakat soal gizi seimbang,” kata Wanggi.

Di balik dapur
Sekilas menjadi pantomimer, sebutan buat pemain pantomim, memang terlihat mudah. Tapi pantomim bukan sekadar memainkan mimik dan gerak tubuh. Kesadaran akan tubuh dan penguasaan konsep menjadi modal penting dalam sebuah pertunjukan.

Wanggi Hoed mengatakan, seni pertunjukan bisu ini bisa digunakan untuk mencari nafkah sehari-hari. “Kalau dibandingkan pertunjukan teater, biaya produksi pantomim jauh lebih murah,” ujar Wanggi.

Dengan Rp3 juta, kata Wanggi, sebuah pertunjukan pantomim sudah bisa digelar. Biasanya, ongkos produksi itu digunakan untuk menggarap publikasi, latihan, transportasi, dan konsumsi. “Kalau biaya kosmetik untuk tata rias tidak terlalu mahal karena sekali beli bisa dipakai beberapa kali.”

Soal panggung, pantomim sangat fleksibel. Bisa di dalam ruangan khusus atau di luar ruangan. Muka juga tidak harus selalu putih. Tidak ada pakem yang mengikat.

Meski demikian, kata Wanggi, konsepnya harus digarap secara matang. Karena sejatinya, pantomimer adalah seseorang yang berkata-kata lewat tubuh dan wajah. Setiap gerakan menjadi sangat berarti.

“Untuk memberikan konteks, biasanya saya memakai teks sebagai sinopsisnya,” imbuh pria yang mengidolakan pantomimer dalam negeri Sena A. Utoyo ini.

Description: http://mi.adinterax.com/customer/yahoo_apac/2/Marketing/.ob/sg_camera_girl_umu_13729061.png?adxq=1360923910Menyoal pekerjaan, Wanggi mengaku dirinya tidak terlalu ngotot. Dia percaya, apabila pantomim digeluti secara serius dan penuh komitmen, pekerjaan bakal datang dengan sendirinya.

Dia memberi contoh pengalamannya. Wanggi mendapatkan 15 tawaran untuk tampil di malam pergantian tahun 2013. Tapi semuanya dia tolak. “Saya tidak mau pekerjaan ini dianggap sebagai hal yang mudah dilakukan. Orang berdandan putih dan berjalan-jalan, berhenti kalau ada yang mau foto. Bukan seperti itu,” ujarnya.

Akhirnya Wanggi memutuskan tampil secara cuma-cuma di Jalan Braga, Bandung. “Di sana saya bisa menyampaikan idealisme saya. Karena kita bisa hidup dari karya.”

Honor untuk setiap pertunjukan di Bandung, kata Wanggi berbeda-beda. Minimal Rp200 ribu hingga Rp500 ribu untuk penampilan selama 2-3 jam. Yang membedakan honor itu adalah jam terbang pantomimer.

“Ada juga taman hiburan yang membuat kontrak selama satu bulan. Setiap hari harus tampil ikut karnaval antara dua sampai kali. Bayarannya berkisar dari Rp 1 juta sampai Rp 5 juta. Lagi-lagi jam terbang yang membedakannya,” ujar dia.

Perkumpulan pantomimer
Selain menggelar pertunjukan, Wanggi juga aktif di Indonesia Mime Artist Association, perkumpulan pantomimer yang dia dirikan untuk memperluas jaringan dan saling belajar. Meski baru beranggotakan 10 orang, dia optimistis organiasi itu bakal terus berkembang.

Untuk memperkuat jaringan pantomimer se-Indonesia, Wanggi tengah mempersiapkan Jambore Pantomime Indonesia di Bandung. Rencananya, para pelaku pantomime itu akan dikumpulkan dan berkemah selama beberapa hari di taman-taman kota.

Dia juga akan mengundang pantomimer dari luar negeri untuk berbagi pengalaman. Mulai dari soal tata rias, penggarapan pertunjukan, hingga menampilkan repertoar masing-masing. “Saat ini sudah ada 15 pantomimer dari beberapa wilayah di Indonesia yang antusias mau bergabung.”


Hak Cipta © 2013 PT Yahoo Indonesia (Co. Reg. No. 09.05.1.72.63024). Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. | Yahoo! News Network |

Rabu, 06 Maret 2013

Kritisi Persoalan Kesehatan Masyarakat Dengan Pantomim



Kritisi Persoalan Kesehatan Masyarakat Dengan Pantomim



Penampilan pantomim peringati 'Hari Gizi Se-dunia' di depan Gedung Sate, Bandung, Jumat (25/1/2013). (zonaaya.com)

BANDUNG – Aksi pantomim yang dimainkan Wanggi Hoed dari Mixi Imajimimetheatre Indonesia bertajuk ‘MIMeditation’ cukup menarik perhatian masyarakat, terutama para pelancong yang kebetulan sedang berada di depan Gedung Sate, Bandung, Jumat (25/1/2013). Beberapa di antaranya merekam aksi Wanggi dengan kameranya. “Ini moment langka mas,  saya baru melihat lagi seni pantomim  setelah setelah 15 tahun yang lalau, saya melihat pantomim di TV. Kata Iwan (20 th) asal Garut.
Bertepatan dengan peringatan Hari Gizi Se-dunia, Wanggi  memerankan sosok rakyat jelata mengenakan baju putih, ikat kepala putih sambil membawa dua buah roti dan satu kotak susu kemasan. Seperti merasakan kesengsaraan,  kegetiran dan kegalauan rakyat kecil, Wanggi melakukannya dengan penuh penghayatan memakan  roti yang telah lusuh, menggambarkan betapa sulitnya rakyat miskin untuk mendapatkan makanan yang layak.
Selain untuk  merespon dan mengkritisi persoalan kesehatan masyarakat,  penampilan Wanggi  di tempat umum sebagai salah satu usaha mempopulerkan kembali seni pantomim . “Pantomin dapat tampil dimanapun , di panggung , diarena pentas, dan berinteaksi langsung  dengan masyarakat  di ruang publik.  Dengan sering tampil langsung di depan masyarakat, diharapkan pantomim akan kembali akrab dan dikenal oleh disemua kalangan.” Ujar Wanggi. (zonaaya.com)

Bottom of Form
Top of Form
Search
Bottom of Form

© 2013 zonaaya.com
Leaf Theme powered by WordPress




'MIMeditation' di depan Gedung Sate



Pantomim Hari Gizi


Aktor Pantomim, Wanggi Hoed mementaskan repertoar 'MIMeditation' di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (25/1/2013). Aksi pantomim ini mengkritisi persoalan gizi yang diangkat pemerintah dengan tema 'Mewujudkan Gizi Seimbang untuk Mengatasi Masalah Gizi' bertepatan dengan Hari Gizi se-Dunia. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN


Nutrition does matter




MORE ARCHIPELAGO NEWS

Nutrition does matter

The Jakarta Post, Bandung | Archipelago | Fri, January 25 2013, 6:02 PM


Actor Wanggi Hoediyanto Boediharjo performs a theatrical piece, entitled "MIMeditation", to commemorate World Nutrition Day in front of Gedung Sate in Bandung, West Java, on Friday. The performance criticized the government's lack of effort in promoting the importance of balanced nutrition to the public. (JP/Arya Dipa)

Editor's Choice







Aksi Peringatan Hari Gizi Se-Dunia Di Bandung


·        
Denyut Sabang Merauke
Description: http://beritadaerah.com/assets/images/beritatkait_tag.png
Aksi Peringatan Hari Gizi Se-Dunia Di Bandung
Sabtu, 26 Januari 2013 09:39

Foto:bd/ant
(Berita Daerah - Bandung) Aktor Pantomime, Wanggi Hoed mementaskan repertoar 'MIMeditation' di depan gerbang Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, Jumat (25/1). Aksi tersebut untuk memeringati Hari Gizi se-Dunia dengan mengkritisi persoalan gizi yang diangkat pemerintah dengan teman 'Mewujudkan Gizi Seimbang untuk Mengatasi Masalah Gizi.
(dr/DR/bd-ant)
Description: Bookmark and Share
Be The First to Comment


Kritisi Hari Gizi dengan Pantomime


·         Foto

Kritisi Hari Gizi

Jumat, 25 Januari 2013 14:17 WIB | Dilihat 42 Kali

Kritisi Hari GiziAktor Pantomime, Wanggi Hoed mementaskan repertoar 'MIMeditation' di depan gerbang Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, Jumat (25/1). Aksi tersebut untuk memeringati Hari Gizi se-Dunia dengan mengkritisi persoalan gizi yang diangkat pemerintah dengan teman 'Mewujudkan Gizi Seimbang untuk Mengatasi Masalah Gizi. (FOTO ANTARA/Agus Bebeng)
·         Copyright © 2013

Pantomime Yang Berkumis Ceria


·         BERITAGAR
Memelihara kumis agar dikenal
Hedi Novianto
14:00 WIB - Jumat, 25 Januari 2013
·         #hiburan


Pernah melihat penampilan Charlie Chaplin? Artis awal abad 20 yang menampilkan gerak-gerik jenaka dalam seni pertunjukkannya itu terkenal dengan riasan wajah putih dan kumis kotak di atas bibirnya. Pelawak senior dari Indonesia, Jojon, pun tampil dengan penanda kumis serupa. Tak ketinggalan pula, Wanggi Hoediyatno Boediardjo.
Aktor Mixi Imajimimetheatre Indonesia ini memutuskan untuk merawat kumisnya sejak empat bulan lalu. Sebagai aktor pantomime, Wanggi merasa perlu ada identitas penanda dirinya. “Biar orang ingat, kalau pemain pantomime berkumis panjang itu saya,” katanya usai menggelar repertoar MIMeditation di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Jumat (25/1/2013).
Adi Marsiela




Pantomime Peringati Hari Gizi Se-Dunia




Rabu, 30 Januari 2013
Oleh: Rachman
25 January 2013 | 18:39 WIB
Pantomime Peringati Hari Gizi Se-Dunia di Gedung Sate




Aktor Pantomime Wanggi Hoed mementaskan repertoar ‘MIMeditation’ di depan Gedung Sate Bandung, Jumat (25/1). MIMeditation merupakan repertoar merespon kesehatan dalam aksi untuk memeringati Hari Gizi se-Dunia, dengan mengkritisi persoalan gizi yang diangkat pemerintah dengan tema ‘Mewujudkan Gizi Seimbang untuk Mengatasi Masalah Gizi.

© 2010-2013 Bisnis Indonesia Jawa Barat


Goodbye 2012 - Hello 2013 (Kolaborasi Pantomime feat Trumpet + Trombone + Saxophone dalam Ruang Publik)


Akhir Tahun Dengan Berkarya Bersama 2012 
(Kolaborasi Pantomime feat Trumpet + Trombone + Saxophone dalam Ruang Publik)
Menciptakan Ruang Seni di Ruang Publik - Karena Kami Senang Berbagi Bersama

Minggu 30 Desember 2012, saya tidak sengaja menghubungi teman dari Hornline [para pemain alat tiup/brass] seperti ; trumpet dan trombone via sms untuk mengisi kegiatan tahun baru dengan menciptakan ruang seni publik melalui kolaborasi antara saya [pantomime dari Mixi Imajimimetheatre Indonesia] dan mereka dengan alat tiupnya “Hornline” dari Pogodigank, awalnya mereka tidak membalas sms saya, lalu saya pikir mereka sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing untuk mempersiapkan tahun baru dengan keluarga atau dengan teman-temannya. Namun tiba-tiba pada sore hari, salah satu dari mereka membalas sms saya dan merespon dengan baik. Alhamdulilah akhirnya, kami merencanakan pertemuan pada hari Senin, 31 Desember 2012 pada jam 1 siang.

Esok harinya pada tanggal 31 Desember saya sudah mempersiapkan makeup dan kostum untuk pertunjukan street performance pada malam hari nanti. Kami bertemu pada jam 1 siang bertempat di taman kampus STSI Bandung, saya sedikit memberi penjabaran bahwa pertemuan ini adalah awal dimana kita bersama-sama akan menciptakan dan merespon ruang publik di jalanan kota bandung. Mereka [Hanif “Trumpet” dan Faisal “Trombone”] dua anak muda pemain alat tiup yang sangat antusias, karena mungkin mereka juga mendapat ilmu disiplin dari sebuah komunitas marching band sehingga mentalitas dan cara berpikir mereka sangat disiplin dan enjoi. Tanpa basa-basi mereka pun mengeluarkan alat tiup mereka dan memulai pemanasan dengan beberapa kali bunyi yang sedikit mengundang beberapa orang di sekitar kampus. Tanpa ragu ketika itu saya iseng mempublish info melalui via sms kepada rekan-rekan yang ada di phonebook saya, selagi mereka berdua melakukan pemanasan dengan alat tiup mereka.

Setelah melakukan pemanasan dan sembari santai menikmati kopi di siang menjelang sore itu, Faisal yang memainkan alat tiup trombone berkata kepada saya ; Apakah teman saya boleh ikut ka? Jawab saya ; Oo.silakan aja faisal? Dia nanti main apa ya?. Faisal ; Dia main saxophone. Saya ; Wah keren sekali, mantap tuh, ok..sangat boleh..heehee- Mendengar mereka ingin mengajak salah satu temannya pemain saxophone saya makin bertambah semangat, karena bunyi dari alat tiup semakin besar dan keren sepertinya. Dan sekitar jam 3 pemain saxophone datang dengan sepeda motor matic nya dia bersama kekasihnya. Ternyata pemain saxophone itu kenal dengan saya, namanya Anggi, dan dia salah satu mahasiswa musik Unpas Setiabudi dan nama kekasihnya Riska. Dia kenal saya karena beberapa teman-teman unpas menceritakan kegiatan saya berkesenian, atau ketika saya juga sering sharing/berdiskusi dengan beberapa orang disana, seperti Mang Dadan, Made, Peri [dari Jurusan Musik]. Ijal, Taufik, Mang EdiKei dan juga Kang Budi Dalton yang selain sebagai El Presidente Bikers Brotherhood juga Kepala Jurusan Musik di Unpas Setiabudi.

Cuaca sore itu mendung, awan hitam sudah menyelimuti langit yang tadinya biru. Kopi kami pun sedikit-dikit mulai habis dan segeralah kami mencari tempat teduh karena sepertinya gerimis sudah mulai mencucurkan airnya pada tanah. Kami bersantai di sebuah lorong kampus dekat loby Gedung Sunan Ambu STSI Bandung….Untung saja kami sudah berpindah tempat duduk, karena ketika kami pindah hujan turun dengan deras dan statis iramanya. Di lorong kami bercerita tentang sebuah proses dalam dunia musik dan seni pantomime, keduanya menarik untuk di bicarakan pada sore yang berirama rintik hujan dan warna langit yang perlahan-lahan menjadi gelap, hingga tak terasa menjelang magrib tiba.

Lalu saya bergegas, mengambil koper tua di kosan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus di karenakan waktu semakin berpacu cepat. Saya meminjami motor teman kosan saya, dan di saat gerimis saya mengendarai sepeda motor untuk mengambil koper tua yang berada di kosan. Setelah kembalinya saya mengambil koper tua. Lalu saya bertemu lagi dengan teman-teman Pogodigank yang sedang bersantai dengan alat tiup mereka. Selagi mereka memainkan alat tiup mereka, saya pergi sejenak ke warnet samping kampus untuk ngeprint tulisan untuk performance malam nanti. Sembari operator warnet memprintkan tulisan. Saya membuka internet untuk mencoba mempublish / broadcast Sekembalinya saya ngeprint teman-teman Pogodigank sedang membeli kopi dan gehu pedas untuk di nikmati bersama-sama.

Saat itu juga kami sejenak menikmati gehu pedas dan segelas kopi panas nan hangat di lorong yang gelap. Sehabis menikmati gehu dan kopi hitam sekitar jam 6 lebih 35 menit kamipun berangkat menuju tempat dimana kami akan melakukan performance, karena saat itu waktu yang tepat untuk berangkat karena hujan cukup reda. Saya pergi dengan menggunakan angkot Buah Batu-Kelapa yang warna biru dan teman-teman dari Pogodigank dengan sepeda motornya, karena ketika saya mencari sepeda motor, saya tidak dapat karena semua orang tidak ada dan mereka memakainya semua, ya jadilah angkot yang saya gunakan untuk transportasi ke tempat performance yang tepatnya di pelataran gedung merdeka, jalan asia-afrika.

Segeralah saya pergi ketika teman-teman Pogodigank pergi dengan kendaraannya, sebelumnya saya sempat menuju tempat fotocopy, namun fotocopy tutup dan saya melanjutkan untuk pergi ke TKP tanpa memfotocopy tulisan yang saya print, karena waktu yang cukup mendesak. Pergilah saya dengan angkot menuju tempat performance. Sepanjang perjalanan menuju TKP di dalam angkot, saya sudah mulai khawatir dengan kondisi dan situasi tempat yang akan di jadikan performance nanti. Karena ketika saya di dalam angkot, hujan kembali membasahi jalanan kota bandung.

Setiba saya di perberhentian angkot, tepatnya di perempatan lengkong, hujan menjadi gerimis rintik, namun ketika beberapa melangkahkan kaki menuju TKP, hujan menjadi deras jatuh ke jalanan yang padat dan ramai. Terus saja saya melangkah walaupun badan dan pakaian basah hingga akhirnya sesampainya di TKP, teman-teman Pogodigank sedang duduk dan gelisah karena hujan semakin deras dan ruang untuk kita performance dalam keadaan yang tidak baik, pelataran yang banjir dan suasana tidak memungkinkan untuk melakukan performance disitu.


                      Suasana Sebelum Street Performance, di Jalan Braga, Senin, 31 Desember 2012
                                                                       Foto oleh  : Anggi Maulana

                                       
 Suasana Setelah Street Performance Kolaborasi, di Jalan Braga, Senin, 31 Desember 2012  
                                                                       Foto oleh  : Anggi Maulana

Akhirnya saya merencanakan tempat kedua yaitu di sekitaran jalan braga, dan teman-teman Pogodigank pun menyepakati. Kami berjalan menuju jalan braga dalam cuaca hujan kami terobos derasnya hujan yang mengguyur malam itu. Sampailah kami di depan sebrang Gedung Gas. Dalam perjalanan sepanjang menuju jalan braga kami dapati beberapa tempat yang sedang mempersiapkan perayaan tahun baru dengan caranya masing-masing, kamipun semapt mencari ruang untuk kami performance, namun di sepanjang trotoar di penuhi oleh para pedagang trumpet yang sedang asyik menjajakan dagangannya kepada public yang sedang berjalan ataupun yang sedang menggendarai motor dan mobil di sepanjang jalan braga dan bunyi trumpet dari segala penjuru bersahut-sahutan tanpa henti, hujan masih mengguyur dengan deras.

Saya dan teman-teman Pogodigank segera mempersiapkan dan menciptakan ruang seni untuk berbagi dengan apa yang telah menjadi misi kami sebelum berangkat. Saya pun membaca sekitar dengan kemungkinan-kemungkinannya, hujan terus mengguyur dan saya terus melakukan eksplorasi bersama teman-teman Pogodigank, saya memulai mengganti kostum dan merias wajah saya dengan warna putih, sedikit merah di bibir dan membuat alis buatan dengan warna hitam di trotoar yang sedikit lenggang kala itu, namun masih ada orang yang lalu lalang melintas di depan area kami hendak bermain. Banyak dari beberapa orang yang lalu lalang itu berhenti sejenak untuk memandang atau menenggok apa yang sedang kami lakukan malam itu.

Bunyi Trombone yang di tiup Faisal dan Trumpet yang di tiup Hanif juga Saxophone yang di tiup Anggi membuat suasana baru dengan bunyi trumpet tahun baru yang bersahutan tadi. Setelah selesai saya makeup dan berkostum lalu saya menuju tempat yang agak jauh dari tempat performance untuk menarik mata dan telinga kepada publik yang berlalu lalang di sekitaran jalan braga dengan payung mereka. Ketika performance di mulai saya agak sedikit ragu namun hati saya terus berteriak “Show Must Go On”, dari saya terus melakukan performance walaupun hujan deras membasahi tubuh dan kostum saya. Kemacetan di jalan braga pun terjadi karena beberapa kendaraan road dua (motor) ataupun roda empat (mobil) bahkan beberapa sepeda yang hendak menuju acara Car Free Night berhenti sejenak untuk mengabadikan beberapa moment di saat saya melakukan performance. Itu adalah sebuah peristiwa yang sangat luar biasa bagi saya ketika hujan membasahi tubuh saya dan saya terus melakukan gerak tanpa kata-kata dan teman-teman Hornline Pogodigank (Hanif, Faisal, Anggi) terus membuat suatu irama bunyi dari alat tiup mereka dengan indah dan bernada sehingga menjadikan suasana yang hujan itu menjadi hangat dan bersahabat.

Beberapa kali ada masyarakat yang mengambil beberapa adegan ketika kami performance dengan media rekamnya, seperti ; kamera hp, poket dan DSLR, beberapa orang berhenti di sisi jalan yang teduh untuk mengapresiasi kami dan berfoto ada juga yang melempar kami uang, namun kami berikan lagi kepada anak-anak jalanan yang sedang menyaksikan kami dan hujan terus mengguyur jalanan braga saat itu. Perisitiwa yang tidak terpikirkan sebelumnya bahwa hujan akan terus mengguyur jalanan kota bandung, dan selama 2 jam kami melakukan performance di sebrang depan gedung gas, yang bagi kami adalah sebuah pola latihan bersama antara saya (berpantomime) dan teman-teman Hornline Pogodigank dengan Alat tiupnya (Trumpet, Trombone dan Saxophone) yang merupakan sebuah proses perjalanan dan cara juga ciri khas dari Nyusur History Indonesia selama ini.
Karena tanpa kami sadari ada warna baru ketika malam itu kami berada disana (Jalan Braga) yaitu sebuah seni pertunjukan yang di kemas dengan cara dan ciri kami untuk berbagi kebahagiaan dan senyuman indah menjelang pergantian tahun dan itulah cara kami merayakan pergantian tahun 2012 menuju tahun 2013, senyum serta tawa ceria dari masyarakat yang melintas dengan motor, mobil, sepeda ataupun yang sedang naik becak di sepanjang jalan braga ketika menonton / mengapresiasi kami dan mereka tersenyum di dalam mobilnya atau tertawa dan senyum di atas motor dan di jok becak adalah sebuah perhargaan serta penghormatan kepada insan seni yang terus berbagi dan saling membagi ruangnya sebagai media hiburan ataupun pengetahuan. Karena kami yakin bahwa seni adalah media therapy untuk masyarakat, sebagai pengingat dan media yang jarang di temui di ruang-ruang yang dimana semua manusia mempunyai begitu banyak aktivitas sehingga mereka tidak mendapat ruang hiburan untuk melenturkan urat-urat atau otot-otot mereka yang kaku setelah seharian bekerja atau beraktivitas untuk menghidupi dan kehidupan selanjutnya.

Bagi kami adalah sebuah kebahagiaan bisa berbagi di ruang yang begitu kronis dan kami bisa memberikan obat penawar rasa gundah gulana, galau, risau dan entah akan ada bahasa apalagi pada masa nanti atau tahun 2013 kelak dan itulah yang bisa kami bagi dan beri dengan para manusia urban saat ini, sebuah seni publik yang dinamis, berkonsep, improvisasi, ceria dan elegan serta bersahaja pada masyarakat lainnya. Karena dari situlah kami memiliki tingkat kepuasan juga kebahagiaan yang kami rasakan dalam hati dan raga kami untuk bisa terus menciptakan karya seni pada ruang dan waktu yang berbeda dengan perubahan zaman.

Semoga di tahun 2013 nanti akan menjadi sebuah motivasi dalam memacu kreativitas yang lebih dahsyat dan inspiratif untuk terus menciptakan karya seni dalam ruang-ruang lain dalam keadaan sehat jasmani dan rohani juga jiwa raga serta senyum cerianya. Karena dari situlah rasa bahagia itu hadir, berbagi bersama dan bertemu muka dalam suasana yang indah dan menyenangkan juga seru dan bisa di ceritakan sebagai bekal perjalanan dalam kenangan kelak jika kita sudah tua nanti. Semoga!

Dan Selamat Tahun Baru 2013 – Semoga Bahagia selalu menyertai kita semua dan yang di cita-citakan juga yang di impikan bisa terwujud di tahun 2013 ini. Amin :)