Senin, 12 November 2012

PERTUNJUKAN TEATER : RAMBUT PALSU [KAMP KONSENTRASI] Karya : Peter Karvas]

 

Selasa, 23 Oktober 2012
Pukul : 20.00 WIB
Tempat : Gedung Kesenian Dewi Asri STSI Bandung, Jalan Buah Batu No.212. Bandung, Indonesia -


Sinopsis RAMBUT PALSU :
 
Rambut Palsu [Kamp Konsentrasi] menceritakan tentang kekuasaan yang anti orang – orang berkepala botak. Sebuah kediktatoran rezim seorang Jendral yang bernama  Jendral Hog Trilmik Dor Homent bersama dua orang bawahannya yaitu ; Ajudan dan Norbert  (pimpinan orang-orang berrambut).
Norbert datang memberikan laporan pada Jendral bahwa ia telah selesai memusnahkan orang-orang berkepala botak. Ia mendapat penghargaan dari Jendral berupa kertas piagam karena tugasnya tetapi ia tidak terima, namun jendral tetap memberi kertas piagam. Setelah kepergian Norbert, Ajudan menghina Norbert dengan sebutan yang tidak layak menurut Jendral. Ajudan mengusik pikiran Jendral dengan akal liciknya,dan penyakit jantung jendral kambuh.
Ajudan memberitahu  jendral  bahwa  ada  seorang  juru  rias  teater  raja  yang  ingin bertemu. Juru rias ahli menumbuhkan juga membikin rambut rontok. Pada saat yang sama ajudan melaporkan bawah ada kekasih jendral bernama lina menunggu di luar namun jendral tidak ingin menemuinya.
Tiba-tiba Lina masuk ruang kerja dengan keheranan, jendral tidak ingin berbicara. Lina membuka topi dan Jendral kaget ketika melihat rambut Lina botak. Jendral terpaku, namun setelah Lina membuka penutup rambut palsunya ternyata Lina hanya menguji kesetiaan cinta Jendral padanya. Perdebatan  Lina dan Jendral pun terjadi, Lina mempertanyakan tentang rasa cinta Jendral padanya, Ia merayu jendral agar menarik kembali pernyataan dan perintahnya kepada Norbert dan komplotannya, jendral tetap pada pendirian. Lina pun pergi meninggalkan Jendral.
Saat Jendral gelisah menyendiri dan meratapi keadaan negaranya dan masih penasaran dengan sosok yang di bicarakan Ajudan yaitu seorang  juru rias teater raja (Hanjo), Jendral memanggil Ajudan masuk ke ruang kerja, bahwa  jendral  ingin bertemu dengan Hanjo. Ajudan pergi dan membawa Hanjo ke ruang kerja. Jendral dan hanjo berdua di ruang kerja. Hanjo menyarankan agar Jendral menghentikan pemusnahan dan pembunuhan orang botak,  tapi Jendral  tetap bersikukuh. Jendral menanyakan tentang keahlian Hanjo membuat tumbuh rambut dan membikin rontok dengan lotion.
Jendral terus menanyakan lotion yang bisa membikin rambut rontok kepada Hanjo. Jendral marah lalu kemudian ia membicarakan tentang lotion bernama Vlasolin. Lalu hanjo berbicara mengenai Vlasolin  bahwa  lotion  itu  adalah  penemuan  dan  ciptaannya, lotion yang mula-mula menumbuhkan rambut lalu kemudian rontok. Jendral kaget bukan kepalang karena dia dan yang lainnya juga memakai Vlasolin yang di buat oleh Hanjo. 
Jendral tiba-tiba merasa pusing dan kebingungan oleh situasi keadaan diri dan negaranya yang mengalami suatu bencana yang tidak terduga sebelumnya, ia di racuni oleh pikirannya sendiri. Ia harus menerima kenyataan pahit yang  sedang di alaminya, Hanjo keluar dengan penuh kepuasan bersama ajudan. Jendral merasa kehilangan si tai Norbert, Ajudan kucing buduk dan Lina kekasihnya yang banci tak berhati juga Hanjo si juru rias teater, ia terus mengingat mereka semua. Menyalahkan Tuhan serta sekitarnya dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan semua yang hidup akan menjadi tiada.


Senin, 06 Agustus 2012

Media Release : = MUDIK MOVEMENT =




Media Release
#NyasarNyusurHistoryRamadhan
Sebuah Repertoar Pantomime :  = MUDIK MOVEMENT =
11 Agustus 2012, Pukul : 16.00 wib –
Tempat di Halte Masjid Alun-Alun Bandung, Depan Bank BRI Tower

Di Indonesia, budaya yang erat kaitannya dengan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri adalah mudik, pulang balik ke kampung halaman. Meski baliknya dari kota ke kota, tetap saja di istilahkan mudik ke kampung (halaman). Budaya ini memang kandungan lokal yang memberi warna pada budaya Islam di Indonesia. Ada hikmah apa dalam budaya mudik ke kampung halaman itu? Seorang pakar psikologi-sosial, Zimbardo ; melakukan eksperimen tentang sifat orang kota dan orang desa/kampung. Ia meletakkan sebuah mobil bagus di pinggir jalan di daerah Bronx, New York. Kap mobil itu dibuka untuk memberi kesan mobil rusak. Mobil bagus yang sama dengan keadaan yang sama diletakkan di pinggir jalan desa di daerah Palo Alto, California. Dari jauh beberapa peneliti mengamati apa yang terjadi dengan kedua mobil itu. Pada malam pertama, sekelompok anak muda mempreteli bagian-bagian mobil yang di parkir di Bronx area. Mobil pun jadi mirip habis kecelakaan. Beberapa orang yang lewat dan melihat mobil itu merusak kaca, jendela, dan apa saja yang tersisa. Sebelum lewat 3 hari, mobil di Bronx area sudah jadi barang rongsokan. Mobil yang ditinggalkan di desa bernasib mujur. Selama beberapa hari tak ada orang yang menyentuhnya. Kecuali saat hujan deras, seorang penduduk di dekat situ berlari menutup kap mobil untuk melindungi mesinnya dari air hujan. Zimbardo berkesimpulan: orang kota lebih agresif, lebih galak, dan lebih mementingkan diri sendiri dibandingkan orang kampung karena orang kota hidup dalam masyarakat yang anonim. Maksudnya orang kota seringkali tak kenal sesama tetangga meski rumah berdempetan. Akibatnya antar mereka hilang keakraban sesama manusia. Dalam bahasa Islam, orang kota telah meninggalkan silaturahmi.
Manusia adalah makhluk yang membutuhan rasa sayang dan menyayangi. Ditinggalkannya silaturahmi mengakibatkan kebutuhan itu tak terpenuhi, sehingga manusia kota rentan terhadap penyakit dan stress. Al Aqra’ bin Habis melihat Nabi Muhammad SAW mencium putrinya. Ia berkata, “Aku mempunyai 10 orang putri, tapi tak seorang pun pernah aku cium. Lalu Nabi bersabda, ‘Mungkin Allah sudah mencabut kasih sayang dari hatimu. Barang siapa tidak menyayangi, maka ia takkan disayangi’. Karena kesibukan dan ego pada diri sendiri, mereka tidak sempat lagi menyayangi, mereka kehilangan rasa kasih sayang. Kasih sayang dari manusia maupun Tuhan. Jadi, mudik adalah kembali merengkuh kasih sayang Allah lewat silaturahmi. Dengan mudik, insyaAllah kita kembali diingatkan kembali pada jati diri manusia, bukan hanya sekedar hamba Allah, tetapi juga khalifatullah. Orang yang memberi manfaat pada sesama dan semesta.
Mudik ternyata bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain, yang saya tahu di negeri China juga mengalami fenomena mudik “Imlek” yang luar biasa, setara keruwetan dan kehebohannya dengan mudik Lebaran di Indonesia. Di Amerika juga ada fenomena mudik yang cukup heboh, yaitu di masa-masa “Thanksgiving Day”. Secara tradisional, keluarga-keluarga di Amerika masih menganut yang mereka sebut dengan “American value” atau “American culture” salah satunya adalah perayaan Thanksgiving Day. Thanksgiving Day dimaksudkan untuk mengucap syukur (sesuai namanya) atas panen yang baik di tahun itu. Thanksgiving biasa jatuh di bulan Oktober. Perayaan ini terutama di Amerika dan Kanada. Ditandai dengan para pekerja yang mengambil cuti 2-3 hari dan kemudian mudik beramai ke kampung halaman mereka. Bedanya dengan fenomena mudik di Asia adalah jumlah penduduk dan keteraturan sistem transportasi mereka yang harus kita akui. Biasanya di saat-saat mudik Thanksgiving Day, tiket pesawat atau kereta juga akan susah dan mahal.”
Begitulah, budaya mudik telah menjadi semacam rutinitas tahunan di negeri kita ini yang tentu saja, diwarnai dengan berbagai persolan di dalamnya. Mulai dari macetnya jalan bagi mereka yang mudik dengan kendaraan sendiri [motor/mobil] ataupun bahaya copet dan mahalnya tiket  bagi mereka yang memanfaatkan jasa angkutan umum yang berjubel.
Tapi karena dirasa betapa pentingnya makna mudik bagi kaum perantau, mudik Lebaran tetap menjadi suatu keharusan demi menjalin kembali hubungan emosionalitas yang sempat “terputus” dengan keluarga dan para tetangga di kampung halamannya. Namun demikian mudik ke kampung halaman tidak semestinya terlalu dikultuskan karena ini adalah salah satu bagian dari rutinitas Lebaran yang mana tujuannya adalah bersilaturahmi dengan sesama umat manusia. Sedangkan segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan biarlah itu menjadi urusan manusia dengan Tuhannya secara langsung, selain dari saling memaafkan secara ikhlas dari hati yang paling dalam.
Idul Fitri adalah sesuatu yang khusus, didatangkan dalam waktu khusus dan dikhususkan bagi orang khusus. Mereka itu adalah orang-orang yang dapat merasakan Idul Fitri secara khusus. Mudah-mudahan kita yang mudik dapat kembali me-recharge hati dengan bersilaturrahim kepada keluarga dan teman-teman di kampung halaman. Sedangkan yang tidak atau belum sempat mudik, tetap bersilaturahim dengan tetangga sekitar agar kasih sayang Allah SWT tetap tercurahkan…. Amin ya robbal alamin ---


SELAMAT MERAYAKAN HARI KEMENANGAN… :)
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 HIJRIYAH, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN…
Salam Mudik Ceria :-)

Informasi Hubungi :
-          082121770424 [Wanggi Hoediyatno]

Minggu, 01 April 2012

Indonesiaseni.com - Pantomim, Bentuk “Therapy” untuk Masyarakat


Sewaktu kecil, saya pernah menonton pertunjukan teater Septian Dwi Cahyo  yang tidak bersuara di layar TVRI. Saya pun pernah menonton film bisu Charlie Chaplin yang mengandalkan gerak-gerik kocak. Lalu, orangtua saya berkata kalau itu adalah pantomim. Umumnya seni pertunjukan teater mengandalkan dialog antarpemain untuk berinteraksi. Tapi tidak dengan pantomim. Pantomim yang dalam Bahasa Latin disebut pantomimus adalah pertunjukan teater yang menggunakan isyarat sebagai dialognya. Isyarat tersebut tadi hadir dalam bentuk mimik wajah dan gerak tubuh. Istilah pantomim sendiri berasal dari Bahasa Yunani yang artinya “serba isyarat”.


Risalah Aristoteles yang terkenal berjudul Poetics, ditulis sekitar 500 tahun SM, juga menyebutkan pantomim. Ini artinya pertunjukan pantomim sudah berumur tua. Beberapa teori menyebutkan pantomim sudah ada lebih dahulu dikenal di Mesir dan India, sebelum ada di Yunani. Teori tersebut didasarkan pada beberapa temuan relief yang ada pada piramida dan candi. Pada abad ke-16 seiring perkembangan commedia dell’arte di Italia, pantomim kembali populer, dan membawa bentuk pantomim seperti yang sekarang kita kenal. Melalui industri film, pantomim dalam semakin dikenal orang. Pada 1927 dikenal dengan era tanpa kata, banyak para aktor yang menguasai seni pantomim, semisal Charlie Chaplin.
Dalam sebuah makalahnya, Nur Iswantara yang mengutip tulisan Pamana Pmd, menyebutkan bahwa pantomim di Indonesia dimulai oleh Sena A.Utoyo dan Didi Petet sejak 1977 di lingkungan IKJ. Sementara itu, di Yogyakarta pantomim muncul sebagai seni pertunjukan juga sekitar 1970-an dengan perintisnya Moortri Poernomo yang mengajarkan gerak-indah, baik di ASDRAFI Yogyakarta maupun di sanggar-sanggar. Prama Pmd dalam tulisannya di Kompas edisi 29 Maret 1987 “Pantomim di Negeri” mengemukakan, pantomim di Indonesia berasal dari tari dan akting dalam seni teater. Di Indonesia sendiri tak banyak seniman pantomim yang setia menggelutinya. Namun, kita bisa menyebut di antara mereka, seperti Moortri Poernomo, Deddy Ratmoyo, Sena A. Utaya, dan tentu saja Jemek Supardi. Menurut Nur Iswantara dalam bukunya Dari Sena Didi Mime Hingga Gabungan Aktor Pantomim Yogyakarta (2007) pantomim baru dimulai di Indonesia sekitar tahun 1970-an, dengan Kota Jakarta dan Yogyakarta sebagai pelopor.
Di Bandung, Wanggi Hoediyatno Boediardjo (Wanggi Hoed) merupakan salah seorang pelaku seni pantomim yang cukup konsisten melakukan “petualangan” seninya. Pada 28 Februari 2012 lalu, tepat di Hari Gizi Nasional, Wanggi pernah melakukan aksi pantomimnya di depan Lapangan Gasibu, seberang Gedung Sate Bandung. Aksi yang bertema “Sehat Milik Siapa?” ini kabarnya membuat panas beberapa pihak yang merasa tersindir. Saya berkesempatan mewawancarai Wanggi yang banyak bercerita soal pantomim dan idealisme dirinya terhadap seni ini.

 Apa pantomim menurut Anda?
Pantomim menurut saya adalah sebuah ekspresi gerak indah dari seni tanpa kata-kata. Seni yang bisu atau bahasa isyarat tanpa menggunakan bahasa verbal, di mana seni yang menceritakan tentang fenomena apa saja melalui gerak dan mimik, serta dengan diiringi irama musik ataupun tidak (apapun jenis musiknya). Seni ini bisa menjadi apa saja, ditafsirkan seperti apa saja, dan bebas berimajinasi dengan cara apa saja, karena seni pantomim itu sendiri sudah berumur tua. Dengan gerak tubuh dan ekspresi wajah itulah seni ini bertema dan bercerita dengan arti yang begitu banyak dari setiap gerakannya. Semua orang yang melihatnya bebas menafsirkan dan mengimajinasikan dari gerak tubuh aktor pantomim tersebut.
Apa yang menjadi pertaruhan Anda ketika berkarya sesuai idealisme anda?
Dalam berkarya di dunia seni (pantomim) yang sedang saya jalani sekarang ini, idealisme itu penting. Tapi di sini saya mencoba menyeimbangkan dengan situasi dan  selera masyarakat kekinian. Apa yang sedang terjadi di masyarakat? Bagaimana respon masyarakat dengan seni yang sajikan? Dalam hal ini, saya juga mempunyai konsep berkarya yang didasarkan pada pengetahuan interdisipliner saya sendiri—sebelum orang lain masuk dalam ruang saya—dan saya menekankan pendapat pribadi juga melalui musyawarah “forum kopi”. Semua konsep itu berdasar pengalaman dari perjalanan dan proses berkesenian saya. Saya sendiri selalu berangkat dalam mengangkat isu sosial-budaya masyarakat yang sedang berkembang saat ini, dan memadukan seni-seni kekinian (urban), kontemporer, modern, serta tradisi yang jadi satu kesatuan energi seni sebagai daya cipta, karsa, serta rasa, dengan bumbu harmonis berirama kedamaian hati, jiwa, dan juga terkadang mengganggu pikiran penikmat/apresiator (publik). Jika ditanya mengenai pertaruhan, mungkin pertaruhannya adalah berbagi senyuman, Mengapa? Karena dari senyuman saja kita pertaruhkan segalanya. Apakah orang yang menyaksikan seni pantomime bisa tersenyum atau tidak? Itu pertaruhannya. Konyol memang, tapi itulah seni: berbagi, menghibur, dan memberi keceriaan, serta therapist juga pengetahuan pada manusia yang sedang dirundung duka.
Bagaimana kondisi pantomim di Indonesia saat ini?
Bicara tentang kondisi seni pantomim di Indonesia, itu sangat luar biasa. Kenapa? Karena selama saya bergelut di dunia ini, saya merasa bersalah telah meracuni beberapa anak muda Indonesia dengan seni pantomim ini. Coba Anda bayangkan saja, saat ini saya bermain pantomim sendiri, dan ketika banyak dari anak muda menyaksikan pertunjukan saya, ataupun melihat melalui foto saya ketika berpantomim, mereka merasa tergugah untuk bisa berpantomim. Saya sendiri juga terkadang terharu melihat realitas itu. Tapi, Indonesia itu unik. Dengan adanya seni pantomim, semua mencoba untuk direfleksikan, karena seni ini tanpa bahasa verbal, jadi semua bisa menjadi apa saja ketika bermain dengan imajinasi. Dan mungkin di Indonesia pantomime sudah kembali merebak seperti pada dekade 1980-an. Itu cukup menggembirakan, bahkan sampai ke beberapa daerah kabupaten. Di Jawa Barat saja, di Cianjur, Cimahi, Garut, dan Cirebon sudah mulai muncul pantomim-pantomim. Senang yaa! Dan sampai saat ini ada komunitas/kelompok yang masih melakukan proses kreatif seni pantomim, seperti Sena Didi Mime (Jakarta), Bengkel Mime Theatre dan Rumah Jemek Supardi (Yogyakarta), serta Mixi Imajimimetheatre Indonesia (Bandung). Jadi jelas bahwa sejarah mencatat pantomim Indonesia, terbaca di tiga kota besar Indonesia: Jakarta,  Yogyakarta, dan Bandung. Itulah perjalanan dari keempat komunitas/ruang seni pantomim yang akan menjadi pondasi kesenian pantomim di Indonesia, juga benteng pertahanan kreatifitas dalam seni pantomim yang ada di negeri ini.
Kalau di Bandung bagaimana seni pantomimnya?
Untuk di Bandung sendiri masih terus saya sebarkan seni ini untuk siapa saja. Tapi mungkin karena waktu juga mereka yang sudah pernah terlibat dalam seni ini, beberapa di antaranya sudah tidak lagi mengolah proses yang pernah saya beri. Itulah masalah waktu dan konsistensi. Bandung ini sebagai kota kreatif di segala bidang, dan harus muncul salah satu seni kreatif. Mungkin saat ini pantomimlah yang mencoba memasuki ruang itu. Bayangkan saja, antusiaisme masyarakat Bandung ketika saya berpantomim di tengah mereka. Mereka sangat ceria saat saya hadir. Dan itukan sebuah bukti nyata bahwa pantomim mulai di terima di masyarakat saat ini, apalagi di bandung.

Adakah pantomim dijadikan sebagai media untuk menyindir kebijakan pemerintah?
Seni itu dinamis, estetis, dan etis. Seni itu sebuah jalan menuju perubahan, bahkan saat ini menjadi sebuah media yang mencerahkan dan sebagai therapist di masyarakat. Mungkin dari dulunya ya, tetapi di seni pantomim sendiri, bukan saja untuk menyindir kebijakan pemerintah melulu. Enak dong mereka kesindir sama kita terus. Pantomim itu kan seni tanpa kata-kata, jadi ketika seniman pantomim memiliki sebuah cerita atau konsep berkarya dengan cara mencoba untuk mengingatkan kepada pemerintah atau masyarakat, bahwa ada hal yang sedang terjadi di sekitar kita loh, ini loh masalah tersebut. Beginilah lho, begitu lho, kalian jangan menutup mata dan menutup telinga. Itulah realitanya. Kita mencoba untuk berkarya tanpa merugikan orang lain atau menyakiti pihak lain. Karena seni atau dari karya seniman itulah yang berbicara. Apalagi pantomim yang menggunakan media gerak tubuh dan mimik yang mengekspresikan rasa dari fenomena tersebut. Merujuk pada kata Mime sendiri itu secara global artinya seni bahasa perdamaian. Jadi seni yang bisa mendamaikan dunia denga gerak tubuh tanpa kata.

Perlukah pantomim diajarkan di sekolah?
Wah, ini pertanyaan yang keren sekali. Saat ini kan seni itu sudah menjadi bahan ajar sekolah-sekolah di Indonesia. Mungkin pantomim bisa saja menjadi salah satu pelajaran di sekolah. Mengapa? Karena pantomim sendiri mengajarkan tentang tubuh, sikap (attitude), etika, serta kejiwaan, juga daya imajinasi dan kreatifitas kita. Apalagi di sekolah, biar anak-anak sekolah nggak ada yang tawuran lagi—kalo mau tawuran juga cukup berimajinasi saja. Tapi betul lho, dari pantomim kita bisa mengenal tubuh kita sendiri, asal usul tubuh kita, sikap disiplin tubuh, dan sopan santun kita, karena pantomim itu asyik dan menceriakan. Apalagi untuk anak-anak sekolah. Saya ada pengalaman menarik ketika mengadakan workshop pantomim di salah satu sekolah alternatif di daerah Cimahi. Ketika itu gurunya bilang sama saya bahwa ada salah satu siswa yang susah sekali untuk tersenyum dan tertawa. Saya lupa siswa itu penderita penyakit apa gitu, istilah medisnya. Tapi ketika saya memulai workshop, semua siswa menikmatinya dengan keceriaan yang begitu bebas dan mereka berimajinasi juga bercanda gurau, saling melempar imajinasinnya. Nah ketika sesi belajar make up, kemudian pertunjukan dari beberapa siswa, mulai kelihatan nih anak yang susah ketawa itu. Dia tiba-tiba ketawa kecil, dan ketika saya melakukan imajinasi dan bergerak, dia tertawa gembira. Gurunya bilang, “Terus Pak Wanggi, terus aja, dia mulai ceria, tuh. Dia tersenyum. Ini jarang sekali terjadi, Pak.” Saya juga senang dan bahagia melihatnya. Ada juga siswa penderita downsyndrom atau apa yaa, lupa saya. Tapi dia ini anak yang dicuekin sama orangtuanya. Jadi sebelum saya memulai workshop, dia banyak curhat sama saya tentang masalah hidupnya. Saya ajak dia melakukan pantomim di hadapan teman-temannya. Setelah selesai, dia bilang,“Bang, sekarang saya paham arti tentang hidup. Hidup itu harus di nikmati, jangan mengeluh selalu dan aku dapat ketika tadi pentas bareng sama abang. Ini jadi terapi untuk saya bang”. Saya hanya menjawab, “Bagus, itu bagus, kamu hebat!”. Nah jadi terbukti, bahwa seni itu jalan untuk menuju perubahan. Perubahan menuju keceriaan.

Sebagai sebuah seni, tersingkirkah pantomim saat ini?
Tersingkir ataupun tidak, seni pantomim tetaplah seni pantomim yang tanpa kata-kata tapi penuh makna dalam setiap gerak tubuhnya. Saat ini, seni pantomim tidak akan pernah tersingkir selama seniman pantomim itu terus memberi nafas dan sentuhan kreatifitas dalam seni tersebut. Karena pekerjaan rumah terbesar untuk seniman pantomim di Indonesia adalah mempertahankan seni ini agar terus hidup di masyarakat, karena seni bagian dari manusianya. Ketika imajinasi manusia sudah selesai, mungkin pantomim sendiri akan selesai!

Apa yang belum kesampaian dari obsesi anda selama ini?
Obsesi yang belum kesampaian itu banyak. Tapi ada obesesi yang saat ini masih menjadi prioritas saya, yaitu mempunyai rumah proses kreatifitas sendiri untuk mewadahi serta mengembangkan seni dari potensi teman-teman, agar terus berlanjut dan berregenerasi ke depannya untuk mereka yang bergelut di dunia seni apapun. Salah satunya mungkin akan mengadakan sebuah even festival pantomim yang berskala nasional dan internasional, di mana akan muncul dari situ regenerasi-regenerasi selanjutnya di dunia seni pantomim Indonesia kelak. Amin. Viva Le Mime! Salam imajinasi ceria untuk Indonesia dan dunia.



Profil Wanggi Hoediyatno Boediardjo
Wanggi Hoediyatno Boediardjo (nama panggung Wanggi Hoed) lahir di Palimanan, Cirebon, 24 Mei 1988. Saat ini masih aktif berkuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Aktif dalam dunia seni teater (STSI Bandung) dan pantomime (otodidak). Setelah berproses kreatif bersama kelompok teater independen Teater Cassanova—sebagai aktor, divisi propaganda, jaringan komunikasi, dan juga sebagai tim artistik panggung—Wanggi juga mendirikan sebuah ruang seni pantomime bersama para seniman pantomime Bandung pada tahun 2007, dan kini berperan penting dalam dunia seni pantomime di Bandung, Indonesia, bahkan international. Ruang itu bernama Imaji Mime Theatre kemudian berevolusi menjadi Mixi Imajimimetheatre Indonesia atas inisiatif dirinya sendiri. Mixi adalah tokoh pantomime yang diperankan oleh Wanggi ketika beraksi di atas panggung (stage/street). Ia kini dikenal sebagai mime artist dunia seni pantomime Indonesia. Ia sering pentas pantomime di ruang-ruang publik (street art), ruang budaya, dan ruang-ruang seni (art space). Ia selalu mengangkat isu sosial-budaya masyarakat yang sedang berkembang saat ini, dan memadukan seni-seni kekinian (urban), kontemporer, modern, dan tradisi menjadi satu kesatuan energi seni dengan bumbu yang harmoninya berirama kedamaian hati, jiwa, dan juga mengganggu pikiran penikmat/apresiator dan publik. Ia sudah melakukan perjalanan berkesenian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Jakarta, Tangerang, Cirebon, Garut, Subang, Tasikmalaya, Yogyakarta, Solo, Bali, dan Lombok. Karya repertoarnya yang sudah pernah dipentaskan di beberapa kota, yaitu “Merah Putih itu Lucu” (2009), “Wira Wiri Disco” [Study Night] (2009), “Beratnya Berbagi” (2008), “Gelombang Gelembung Mimpi” (2010), “Aku Bosan” (2010), “Area Terlarang itu Dilarang” (2010), “Nyusur Tak Pernah Usai” (2010), “Tong Dipohokeun” (2011), “Cap Kereta Angin” (2008), “Indahnya Bersama Kalian Walaupun Hanya Sekejap” (2009), “Dalam Sunyi dan Ceria” (2011), “Ketika Cinta Datang dan Pergi” (2010), “Deg-Degan” (2009), “Awas!” (2008), “Buang Sampah Ya!” (2010), “Save Heritage!” (2009), “Hampir Punah Semua” (2010), “Aku di Dalam Kelas” (2009), “Dalam Sunyi dan Ceria II” (2012), “Ziarah Sunyi” (2012), dan “Sehat itu Milik Siapa?” (2012). Kini ia sedang melakukan sebuah perjalanan (The Journey Explorer History Of Indonesian) dengan seni pantomimenya untuk mempromosikan, mengkampanyekan, saling mengingatkan, juga mengenang kembali tentang seni, sejarah, dan budaya Indonesia yang masih ada hingga kini. Serta kepedulian dan kecintaannya terhadap lingkungan di sekitar, dengan sebuah petualangan ke beberapa kota di Indonesia dan dunia, melalui konsep perjalanan hemat (low-cost) ala traveller/backpacker dengan nama ruang Backpacker Nyasar Nyusur History Indonesia (www.wikipedia.org).

Fandy Hutari, penulis (buku, esai, cerpen), editor lepas, dan jurnalis.
Berdomisili di Bandung.



Copyright © 2012 Indonesia Seni - Bentang Informasi Seni dan Budaya Indonesia. All Rights Reserved.



Sabtu, 10 Maret 2012

SINDO = Pantomim Hari Gizi Nasional


Pantomim Hari Gizi  Nasional 

Wednesday, 29 February 2012  

BANDUNG – Tak banyak masyarakat yang memperingati 28 Februari sebagai Hari Gizi Nasional di Indonesia,bahkan mereka seakan lupa gizi merupakan masalah krusial di negeri ini.

Hal itulah yang mendorong seniman pantomim Wanggi Hoed melakoni aksi tunggal “Refleksi Hari Gizi Nasional” di Hall Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, kemarin. Aksinya dimulai sejak pukul 10.00 WIB dari sisi Lapangan Gasibu menghadap Gedung Sate. Tanpa banyak kata-kata, di hadapannya berlembar-lembar roti kismis di atas foto-foto dan esai tentang gejala klinis gizi buruk terhampar.

Dia terus meminum literan susu dari sebuah kantong plastik melalui selang sepanjang 75 cm. Dia mereka-reka gerakan seumpama anak kecil meminta makan sambil minum susu dengan mata berkaca-kaca.Wajah dibalut saripohaci dan lipstik memenuhi seluruh permukaan bibirnya itu menawarkan susu ke setiap pengendara mobil yang dijangkaunya.

Aksinya menyedot perhatian masyarakat di Lapangan Gasibu, tak terkecuali para pemulung, wartawan, dan pedagang asongan. Apalagi,di akhir sesi dia menyiramkan susu ke roti melalui selang, lalu menyiram dirinya sendiri.Kemudian ia terkulai lemas bak kelaparan, dan memakan roti sambil menangis. Tak ada tepuk tangan dari para pemulung, mereka hanya berdecak kagum akan aksi Wanggi.

“Hari ini tanggal 28 Februari merupakan Hari Gizi Nasional, pemerintah yang menetapkan hari itu, namun sekarang seperti melupakan,” ujar Wanggi kepada wartawan seusai melakoni aksinya. Sebagai refleksi pernyataannya, dia mencatat saat ini kasus gizi buruk marak terjadi di Indonesia.

Apalagi di antaranya 80% penderita gizi buruk merupakan anak di bawah usia lima tahun (balita). “Apalagi tragedi marasmus (busung lapar karena kurang kalori) dan kwashiorkor (kurang protein) merupakan PR (pekerjaan rumah) kita
_besar pemerintah yang masih mudah ditemui saat ini,”ujarnya.  gita pratiwi


Sabtu, 03 Maret 2012

GALAMEDIA : Berpantomim Sambut Hari Gizi Nasional



Rabu, 29 Februari 2012

Berpantomim Sambut Hari Gizi Nasional


HIRUK-PIKUK

suara orang-orang yang tengah berdemo di depan Gedung Sate Bandung, tidak membuat Wanggi Hoed resah. Dia asyik berpantomim menyambut Hari Gizi Nasional yang jatuh setiap tanggal 28 Februari dengan repertoar bertajuk "Sehat itu Milik Siapa?". Sambil menenteng plastik berisi susu murni dan foto bergambar bayi lelaki yang kekurangan gizi, Wanggi melakukan aksinya hingga ke tengah Jln. Diponegoro aandung, Selasa (28/2).


Kontan saja, aksi Wanggi ini membuat sedikit kemacetan arus lalu lintas. Padahal di depan Gedung Sate banyak para pendemo yang menentang aksi Bupati Subang, Eep Hidayat. Tetapi aksi ini tidak memengaruhi Wanggi untuk mengingatkan masyarakat akan Hari Gizi Nasional.


Susu yang menjadi bahan aksinya, disimbolkan sebagai lambang kelengkapan gizi anak Indonesia. Namun hingga kini, susu belum menjadi sesuatu yang mutlak dikonsumsi. Pasalnya, pemerintah kurang menggiatkan konsumsi gizi. "Harganya yang mahal menyebabkan masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi susu sebagai asupan gizi," ungkapnya kepada wartawan.


Selain susu, Wanggi pun membawa potongan roti berwarna cokelat yang disimpan di seberang Gedung Sate. Sama halnya dengan susu, roti belum menjadi makanan pokok seperti nasi. "Padahal kadar kalori dan gizi roti lebih tinggi dari nasi," ujarnya.


Aksi repertoar pantomim Wanggi ini sedikit menarik perhatian orang yang berada di Lapangan Gasibu yang tengah asyik menyaksikan aksi demo di depan Gedung Sate. Mereka sedikit terheran-heran dengan Wanggi yang memainkan seni pantomim. Yang lebih mengherankan lagi, ia sengaja membawa satu plastik susu yang kemudian diminumnya menggunakan slang plastik. Sementara potongan roti sebagian dimakan, sebagian lagi dibiarkan di trotoar jalan.


Aksi ini bentuk protes terhadap pemerintah yang tidak ngeh pada Hari Gizi Nasional. Wanggi menilai, pemerintah sudah melupakan Hari Gizi Nasional. Buktinya banyak warga kekurangan gizi.

(kiki kurnia/"GM")**

copyright © 2001 www.klik-galamedia.com

INILAH JABAR : Hari Gizi Dilupakan, Wanggi Sindir Lewat Pantomim Hari Gizi Dilupakan, Wanggi Sindir Lewat Pantomim





Oleh: Dery Fitriadi Ginanjar
Jabar - Selasa, 28 Februari 2012 | 23:01 WIB

INILAH.COM, Bandung - Merasa prihatin pemerintah melupakan Hari Gizi Nasional, Wanggi Hoediyatno menggelar pantomim di seputaran Gasibu dan Gedung Sate Jalan Diponegoro Kota Bandung, Selasa (28/2/2012). Aksi pantomim yang diperagakan Wanggi mengambil tema Sehat Itu Milik Siapa?.

Aksi pantomim yang dimainkan Wanggi cukup menarik perhatian warga, terutama pengendara yang melintas daerah tersebut. Bahkan beberapa pengendara memperlambat kendaraannya untuk sekadar melihat aksi Wanggi.

Wanggi yang mengenakan baju khas pantomim, seperti jas abu-abu, celana pendek, dan topi caping, memerankan sosok rakyat yang menderita kekurangan gizi. Dia pun membawa botol susu dari plastik bening ditambah selang berukuran kecil. Seperti merasakan kegetiran mereka, Wanggi mengekspresikannya dengan raut muka merana. Bibirnya bergetar saat menyedot susu di tangannya.

Pria ini memulai aksinya di depan taman Gedung Sate. Sesekali Wanggi duduk, berdiri, duduk, berdiri lagi. Terus-terusan seperti itu, seolah menggambarkan kegalauan yang menimpa rakyat kurang gizi. Untuk lebih memberi kesan mewakili rakyat dari golongan itu, Wanggi menenteng dan memperlihatkan foto seorang anak gizi buruk.

“Hari ini adalah Hari Gizi Nasional. Tetapi pemerintah seolah melupakannya. Akibatnya luput dari ingatan publik. Saya mencoba me-reply tragedi kemanusiaan marasmus (busung lapar karena kekurangan kalori) dan kwashiorkor (kekurangan protein). Kasusnya sudah sekitar 80 persen dari total anak balita di negeri ini. Bahkan masyarakat dunia sampai menyebut Indonesia sebagai negeri busung lapar,” ungkap Wanggi kepada wartawan di sela-sela aksinya di depan Gedung Sate Jalan Diponegoro Kota Bandung, Selasa (28/2/2012).

Wanggi mengaku mempersiapkan aksi pantomimnya selama dua minggu. Dia ingin mengingatkan seluruh elemen masyarakat soal pentingnya gizi bagi anak. Nantinya masyarakat bisa melihat anak-anak tersenyum lepas karena tidak menderita kekurangan gizi.
“Melalui refleksi repertoar pantomim ini, saya harap kita bisa tersenyum melihat anak-anak generasi bangsa beraktivitas ceria. Tanggung jawab ada di pundak kita,” tuturnya.[jul]


detikBandung.com : Hari Gizi Terlupakan, Wanggi Sindir Pemerintah Lewat Pantomim



Selasa, 28/02/2012 15:10 WIB
Hari Gizi Terlupakan, Wanggi Sindir Pemerintah Lewat Pantomim
Oris Riswan Budiana - detikBandung

Bandung - Hari Gizi Nasional yang jatuh tepat hari ini seolah terlupakan dan luput dari ingatan publik serta pemerintah. Menyikapi itu, Wanggi Hoediyatno menyindir pemerintah lewat aksi repertoar pantomim berjudul 'Sehat Itu Milik Siapa?' di sekitar area Gedung Sate dan Lapangan Gasibu, Selasa (28/2/2012).

Seorang diri berpenampilan ala aktor pantomim, Wanggai beraksi dan cukup menarik perhatian warga serta para pengendara yang melintas di lokasi.

Pertama ia melakukan aksinya di depan taman Gedung Sate yang berada di sebelah kanan. Dengan mimik muka kesedihan, ia membawa susu dalam plastik di tangan kanan. Ia kemudian menyedot susu menggunakan selang berukuran kecil.

Sesekali ia duduk, berdiri, duduk, kemudian berdiri lagi. Tanpa suara, ia seolah ingin memperlihatkan penderitaan mereka yang kekurangan gizi. Untuk mengekspresikan kepedihannya, bibirnya terlihat bergetar saat menyedot susu dari plastik bening.

Di tangan kiri, ia memperlihatkan foto anak gizi buruk di kertas yang diprint. Hal itu membuat beberapa pengendara sempat menurunkan laju kendaraannya untuk melihat aksi Wanggi.

Ia kemudian melanjutkan aksinya di tengah jalan. Wanggi memperlihatkan foto sambil menyedot susu dan memperlihatkan raut muka kepedihan. Beberapa pengendara berhenti karena aksi Wanggi membuat pengendara tidak bisa melintas. Namun itu hanya berlangsung sekitar 2 menit.

Wanggi lalu menuju Lapangan Gasibu. Di pinggir area Lapangan Gasibu, ia kembali beraksi. Sambil terus memegang susu di tangan kiri dan foto di tangan kanan, lagi-lagi ia memperlihatkan ekspresi sama.

Bahkan kali ini aksi yang dilakukan lebih dramatis. Ia memakan beberapa roti yang sebelumnya sudah dikerubungi lalat. Susah payah ia memakan roti berwarna cokelat itu dengan tangan gemetar.

Wanggi bahkan sempat tiduran di trotoar pinggir Lapangan Gasibu. Memperlihatkan ekspresi menangis tanpa suara, ia meratap dengan posisi tidur menyamping.

Aksi pun ditutup dengan memberi hormat pada warga yang melihat aksinya. Wanggi membungkuk pertanda hormat dan disambut warga sekitar dengan tepuk tangan.

Wanggi mengaku aksinya itu sebagai bentuk keprihatinan karena Hari Gizi Nasional seolah terlupakan. Padahal hari ini bisa jadi momen bagi pemerintah untuk berbuat lebih baik agar tak ada lagi warga yang kelaparan, bahkan harus mengalami gizi buruk.

"Ini unyuk mereply kembali tragedi kemanusiaan marasmus (busung lapar karena kekurangan kalori) dan kwashiorkor (karena kekurangan protein). Dalam hal ini, kasusnya sudah sekitar 80% dari total anak balita di negeri ini. Masyarakat dunia pun menyebut Indonesia sebagai negeri busung lapar," jelas Wanggi.

Lewat aksinya, Wanggi juga ingin mengingatkan semua elemen masyarakat terkait pentingnya gizi yang baik bagi anak.

"Melalui refleksi repertoar pantomim ini saya harap kita semua mampu tersenyum melihat anak-anak generasi penerus bangsa melakukan aktivitas bermanfaat dengan ceria. Tanggung jawab ada di pundak kita masing-maing," tutur Wanggi yang mengaku mempersiapkan aksinya selama dua minggu.
(ors/ern)
sumber http://bandung.detik.com/read/2012/02/28/151035/1853561/486/hari-gizi-terlupakan-wanggi-sindir-pemerintah-lewat-pantomim