Selasa, 30 Agustus 2011

Selamatkan heritage dengan pantomim


Harian Jogja, Kamis Pahing (28 Juli 2011)
Selamatkan heritage dengan pantomim

Apriliana Susanti
Wartawan Harian Jogja

Pantomim bagi seorang Wanggi Hoed bukan sekedar seni tanpa kata-kata, namn juga untuk mengkampanyekan sejarah warisan sejarah budaya Indonesia. Dalam program Backpacker Nyasar Nyusur History Indonesia, pria asal Bandung ini mampir di Jogja untuk berpantomim di beberapa ruang publik yang memiliki nilai sejarah. “Selamatkan heritage [warisan budaya] jangan hanya di bibir saja. Kami mencoba berbuat secara nyata untuk menyelamatkan heritage di Indonesia,” ungkapnya usai pertunjukan pantomimnya di depan area Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Sabtu (23/7) lalu. Wanggi menuturkan, kesadaran masyarakat Indonesia dalam menjaga dan melestarikan warisan-warisan budaya masih rendah. Hal itu di buktikan dengan banyaknya bangunan-bangunan peninggalan masa lalu yang tak terawat bahkan banyak diantaranya yang di bongkar untuk di bangun gedung-gedung modern. “Selama perjalanan kami menyusuri heritage-heritage di berbagai kota di Indonesia, kami jumpai banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang tidak terawat,” ujarnya. Dalam setiap penampilannya, Wanggi Hoed selaludi temani oleh Irwan Nu’man yang meniup terompet. Mereka berdua tergabung dalam komunitas Mixi Imajimimetheatre Indonesia yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat.

Pertunjukan jalanan
Pada kesempatan lain, Wanggi Hoed tidak hanya berpantomim untuk penyelamatan warisan budaya saja. Bersama beberapa mahasiswa Magister Manajemen Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja, mereka menggelar pertunjukan jalanan di Titik Nol Kilometer untuk menggalang dana bagi anak-anak yatim piatu pada Jumat (22/7). “Kami di ajak teman kami [mahasiswa ISI] untuk show di sana. Kebetulan juga acaranya dekat bangunan-bangunan peninggalan sejarah seperti kantor pos besar,” ujarnya. Dalam pertunjukan di kedua tempat itu, aksi Wanggi mendapat sambutan hangat penonton. Umumnya, penonton tertarik melihat pantomim yang jarang mereka lihat di ruang publik. Namun demikian, tidak semua pertunjukan mereka mendapat sambutan hangat. Mereka mengaku kerpakali di kejar-kejar oleh petugas kepolisian karena dianggap menggangu ketertiban umum. Bahkan mereka juga pernah dirampok seusai pentas di Bandung. “Waktu show di Jakarta, kami hampir diusir dan dimasukkan bui oleh polisi dan ketika di Bandung, kami kena perampokan,” ungkap Wanggi. Meskipun kerap menemui berbagai halangan, Wanggi dan Irwan Nu’man tidak menyerah untuk tetap menyuarakan penyelamatan dan pelestarian warisan-warisan budaya Indonesia. Rencananya, Mixi Imajimimetheatre Indonesia akan menyusuri peninggalan-peninggalan bersejarah di Kota Solo pada September mendatang. “Save heritage, semoga bukan hanya di bibir saja! Ini bukan hanya misi kami, tapi misi untuk Indonesia dan dunia,” tegasnya.






Harian Jogja :



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar