Senin, 27 Januari 2020

Melalui Kesunyian Suara Bisa Terdengar – Bersama Wanggi Hoed di Parade Teater Canasta 2018

Penulis : Setyawati (tatkala.com)




Justru suara yang keras itu lebih sering tidak terdengar dan bahkan mungkin sengaja untuk tidak didengar. Melalui kesunyian, Wanggi Hoed menyampaikan berbagai persoalan yang dirasa meresahkan. Dan justru itu lebih kedengaran hingga gaungnya terus menggema.
Wanggi Hoed menyampaikan berbagai persoalan itu dalam diskusi di hari kedua Parade Teater Canasta 2018 di Canasta Creative Space, Denpasar, 30 Oktober 2018.
Ketika itu, saya baru saja sampai di Canasta Creative Space, ternyata diskusi sore baru saja bubar. Memang saya datang agak sedikit terlalu cepat karena saya pikir diskusi malam akan segera dibabat. Diskusi malam itu memang saya tunggu: tentang proses kreatif bersama Wanggi Hoed.
Sekitar jam 20.00, acara diskusi baru saja dibuka. Pembukaan diskusi ini diawali dengan penjelasan tentang latar belakang Mas Wanggi, tentang berbagai hal yang sudah dilakukan dan dicapai. Nggak berlama-lama, Mas Wanggi pun menampilkan film sunyi yang ia buat berkolaborasi dengan temannya.
Klip ini kira-kira durasinya 15 menit. Nggak terlalu panjang. Tapi dampak setelah menontonnya yang panjang. Mas Wanggi menceritakan latar belakang film ini dibuat adalah respon terhadap isu kesehatan mental yang belakangan memang sedang bergema. Dalam film sunyi ini, Mas Wanggi menampilkan gerakan-gerakan yang memperlihatkan detail tubuh dalam mengekspresikan sesuatu. Ketika gerakan dalam film seperti cemas, saya pun tanpa sadar juga ikut merasa cemas.
Setelah menonton film itu, akhirnya sharing session pun dimulai. Awalnya, Mas Wanggi menceritakan bagaimana ia memulai perjalanannya dengan melakukan pantomim untuk menyampaikan pesan-pesan yang meresahkan. Mas Wanggi juga terutama beraksi di Aksi Kamisan, antara Jakarta dan Bandung. Ia melakukan aksinya no matter what, mau hujan atau badai pun ia tetap melakukannya. Tidak ada yang menonton pun ia akan tetap melakukannya. Inilah perjalanan menyampaikan pesan agar bisa terdengar.
Sebuah usaha tentu tidak ada yang sia-sia. Berkat perjuangannya, ia justru banyak mendapatkan simpati dan tempat di masyarakat yang merasa pesan ini perlu disampaikan. Banyak yang mendengar pesannya ini, walaupun Mas Wanggi menyampaikannya melalui kesunyian.
Contohnya, ia pernah menampilkan pertunjukan, “Sehat itu Milik Siapa?” yang pada saat itu bertepatan dengan Hari Gizi Nasional. Ia melakukannya di Gedung Sate, Bandung. Melalui pertunjukan itu, ternyata banyak media yang meliput hingga Departemen Kesehatan pun mengkliping fotonya.
“Bayangin, ngapain coba salah satu departeman ngliping foto saya, muka saya? Ya, kalau nggak untuk bahan evaluasi, untuk apa lagi? Masa iya, cuma karena suka sama saya. Kan, nggak mungkin,” gitu kata Mas Wanggi. Ya, pesan yang ingin Mas Wanggi sampaikan itu sudah terdengar hingga di ujung puncak. Inilah yang saya maksud usaha tidak ada yang sia-sia.
Kemudian, Mas Wanggi juga mengatakan bahwa, “Ya, satu-satunya cara untuk beraksi adalah buatlah dan lakukanlah.” Memang tidak ada cara lain jika kita ingin melakukan sesuatu. Ya, lakukan saja, nggak perlu banyak nanti-nati. Mas Wanggi melanjutkan, “Bisa isu tentang apa saja. Misalnya, kamu lihat taman di dekat rumahmu rusak, suarakan! Kamu lihat pohon di daerahmu rusak, suarakan!”
Ia menekankan bahwa kita perlu melakukan sesuatu sesuai dengan jalur kita masing-masing. Nggak perlu mengangkat isu yang “tinggi”, angkat apa saja yang ada di sekitar. Nggak perlu juga memikirkan jelek atau bagus, atau ada yang lihat atau tidak. Yang penting, lakukan saja.

Diskusi ini berubah menjadi obrolan yang lumayan seru karena pembawaan Mas Wanggi yang energik dan ekspresif. Ditambah lagi, ia juga bercerita tentang pengalamannya digiring oleh intel.
“Pas saya baru datang, saya bingung, nih. Kok mukanya nggak ada yang saya kenal, ya? Tapi saya tetep masuk aja, nyelonong boy gitu,” ketika saya mendengar cerita ini antara takjub dan bingung. Sebab, saya hanya pernah baca cerita-cerita ini di cerpen atau novel saja.
“Saya udah feeling, nih. Kayak ada yang nggak beres. Yauda saya keluar lagi aja. Eh tiba-tiba ada bapak-bapak nyegat saya, terus tiba-tiba mobil Alphard dateng,” Mas Wanggi menceritakan pengalaman ini dengan biasa-biasa saja, seperti bukan sesuatu yang luar biasa. “Pas saya lihat mobil Alphard dateng, saya seneng sebenernya. Alphard, lho! Tapi, ya, di dalem saya ditanya-tanya.” Ia melanjutkan bahwa ia ditanya kenapa ia menyebabkan keributan dan sebagainya.
Cerita Mas Wanggi pun berlanjut ke cerita yang lain. Salah satu hal yang saya ingat dari perkataan Mas Wanggi adalah, “Kita menjadi bola-bola kecil aja, tapi dampaknya bisa ke mana-mana.” Begitu kira-kira katanya. Saya setuju banget, sih. Sering kali yang besar-besar itu justru tidak memberikan dampak apa-apa. Justru pesan yang ingin disampaikan sering kali tersamar dengan pesan-pesan “bawaan” lainnya. Mas Wanggi menambahkan juga tidak perlu menjadi seorang maestro yang tinggi, atau apalah yang tinggi-tinggi. Semakin tinggi kita berada, semakin kencang pula angin menerpa. Perlu balik ke ajaran padi itu, semakin berisi semakin merunduk.
Saya semakin sadar bahwa ketika ingin didengar dan terdengar, bukan berarti kita harus menaikkan volume suara kita, teriak sekeras-kerasnya. Sebab, dengan berbagai hal bisa dilakukan untuk bisa menyampaikan pesan yang ingin kita sampaikan. Caranya pun bisa bermacam-macam. Nggak melulu harus menggunakan caranya sama dari waktu ke waktu. Kalau kata Mas Wanggi, “Hellooo, ini udah tahun berapa. Masih aja duduk di bawah pohon menunggu hujan dan panas.”
Obrolan bersama Mas Wanggi tidak hanya terjadi ketika acara diskusi saja. Setelahnya, saya dan Mas Wanggi ngobrol sedikit tentang bahasa Isyarat dan pantomim. Saya mengatakan bahwa pantomim itu bukan bahasa, tapi gestur dan sebaliknya, bahasa Isyarat itu, ya, bahasa. Seperti bahasa Bali, Jawa dan lainnya.
Mas Wanggi pun setuju dengan pernyataan saya. Ia bilang, “Kalau di pantomim, misalnya mau gerakan bapak, kan bisa kayak gini, nih.” Ia pun mencontohkan gestur bertubuh besar dengan gerakan-gerakan yang menggambarkan bapak. “Tapi, kalau di bahasa Isyarat kan ga bisa. Kalau bapak gini, ya harus gini. Nggak bisa ganti-ganti.” Mas Wanggi juga menambahkan bahwa pantomim itu bebas sebab terbangun dari imajinasi. Imajinasi, kan, nggak terbatas.
Ya, obrolan perlu berhenti sebab malam juga perlu berhenti. Semoga akan ada lagi pertemuan-pertemuan selanjutnya!
Melalui kesunyian, suara justru terdengar. (T)

Berita diatas dapat di akses di :
http://www.tatkala.co/2018/11/03/melalui-kesunyian-suara-bisa-terdengar-bersama-wanggi-hoed-di-parade-teater-canasta-2018/

Seni Pantomim Antar Wanggi Hoed hingga ke Luar Negeri

Seni Pantomim Antar Wanggi Hoed hingga ke Luar Negeri.


Jurnalis : Oris Riswan Budiana (BeritaBaik).





Bandung - TemanBaik pasti tahu dong dengan seni pantomim? Itu loh seni gerak tubuh, tanpa suara, dan artis atau pelakunya biasanya berwajah putih. Kenalan dengan salah satu artis pantomim yuk!

Salah seorang artis pantomim itu adalah Wanggi Hoediyatno (30) atau yang lebih dikenal dengan nama Wanggi Hoed. Pria kelahiran Palimanan, 24 Mei 1988 itu sudah menjadi artis pantomim sejak 2006. Sejak kecil, ia mengaku sudah tertarik dengan dunia pantomim. Tapi, ia baru mulai aktif mempelajari pantomim sejak 2004.

Ia mulai mencari beragam informasi dan literatur seputar pantomim. Keinginan belajarnya pun semakin besar. Salah satu yang membuat tingginya semangat belajar pantomim adalah karena bergaul dengan orang-orang komunitas pantomim di Bandung.

Kebetulan, pada 2006 ia berkuliah di STSI (sekarang ISBI) Bandung dan mengambil jurusan teater seni pertunjukan. Ia pun semakin giat belajar dan mulai fokus menjadi artis pantomim.

Ia lalu bermain dari satu komunitas ke komunitas lain, serta acara ke acara lain. Hingga akhirnya, ia mendapat salah satu panggung besar, yaitu tampil di pertunjukan teater kolosal di Centre Culturel Francais (CCF) Bandung pada 2007.

Dari situ, semangat belajarnya semakin besar. Bahkan, lebih dari 10 tahun ia terus belajar berbagai hal terkait pantomim untuk menambah pengetahuan dan kemampuannya. Di saat yang sama, ia terus meniti karier sebagai artis pantomim.

Ketekunan Wanggi pun berbuah hasil. Ia sering diundang tampil dalam berbagai kegiatan. Berbagai daerah di Indonesia sudah disinggahi untuk menampilkan keahliannya. Bahkan, ia pernah bermain di luar negeri, yaitu Timor Leste dan Vietnam. Keren kan?

Ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan melalui pantomim. Sebab, ia bisa menampilkan kegelisahan publik, protes, serta beragam bentuk perasaan lainnya melalui seni olah tubuh dan ekspresi wajahnya.

Melalui pantomim, ia juga bisa mengajak orang yang menyaksikan aksinya untuk berbuat sesuatu. Di saat yang sama, orang-orang juga diajak berpikir untuk mencerna makna yang ditampilkan dari pertunjukannya.

"Saya bisa memberikan pengertian pada mereka bagaimana pantomim sebagai kesenian yang multitafsir. Itu karena penonton punya persepsi, analisis, sudut pandang, imajinasi, dan cerita masing-masing (untuk menafsirkan pantomim yang ditampilkan)," kata Wanggi kepada BeritaBaik.id, Selasa (18/6/2019).

Di Indonesia, seni pantomim sendiri belum terlalu banyak pelakunya. Bahkan, seni pantomim masih jarang menjadi suguhan dalam suatu kegiatan. Itu berbeda dengan seni lain yang mendapat ruang luas untuk tampil.

Meski begitu, Wanggi mengaku tetap bisa hidup sebagai artis pantomim. Segala kebutuhannya bisa terpenuhi. Bahkan, seni pantomim mampu membawanya berkeliling ke berbagai tempat, termasuk ke luar negeri. Hal itu belum tentu dirasakan orang dari profesi lain. Apa resepnya?

"Saya hidup dengan profesi pantomim ini pasti dengan cinta ya. Melalui porsi cinta ini saya bisa hidup karena saya hidupin seni ini," ungkap Wanggi.

Tapi, ada hal lebih mahal yang dirasakannya jauh lebih besar dari sisi materi atau uang. Melalui pantomim, ia mendapat banyak teman di mana-mana. Hal itu jelas tidak pernah bisa diukur dengan uang.

"Ada silaturahmi yang saya dapat, ini yang berharga karena pantomim ini tujuan awalnya enggak ke sana (mencari materi). Kalaupun ada dalam bentuk materi, itu bonus dan bagian dari rezeki," tutur Wanggi.

Seni pantomim sendiri menurutnya cukup menjanjikan jika dijadikan sebagai profesi. Sebab, pelakunya tidak sebanyak pelaku seni lain. Tapi, perlu jam terbang dan nama agar bisa mencapai posisi seperti dirinya sekarang.

"Menjanjikan, pantomim ini nilai seni pertunjukan yang mahal karena sangat langka dan sulit untuk mencari pelakunya, apalagi pelaku punya biografi yang unik," jelas Wanggi.

Sementara dari perjalanan panjangnya sebagai artis pantomim, Wanggi jelas punya banyak momen menarik. Tapi, salah satu yang paling berkesan adalah bisa tampil di Jakarta di hadapan almarhum Taufik Kiemas yang saat itu menjabat sebagai Ketua MPR RI pada 2011.

Saat itu, ia mengaku tidak sadar jika yang ada di hadapannya adalah seorang pejabat tinggi. Ia baru tahu setelah turun panggung bahwa di hadapannya adalah Ketua MPR RI.

Wanggi sendiri punya satu keinginan besar. Ia ingin tampil di hadapan seseorang yang punya pengaruh besar di Indonesia sekaligus menyampaikan pesan melalui pantomim.

"Saya ingin tampil di depan presiden dan menyuarakan apa yang jadi suara teman-teman yang saya perjuangkan. Tema besarnya sederhana sih yang ingin ditampilkan, sesuai dengan sila ketiga dan keempat Pancasila," pungkas Wanggi.

TemanBaik ingin tahu bagaimana aksi Wanggi bermain seni pantomim? Kamu bisa cek di akun Instagram @wanggihoed atau di channel Youtube Wanggi Hoed Docs.

Foto: Instagram @wanggihoed

Editor : Nita Hidayati

Berita diatas dapat di akses di : https://www.beritabaik.id/read?editorialSlug=sosok-inspiratif&slug=1560842844188-seni-pantomim-antar-wanggi-hoed-hingga-ke-luar-negeri