Senin, 15 Mei 2023

 

Press Rilis untuk Diketahui Masyarakat.
= Imajimimetheatre Indonesia dan Nyusur History Indonesia =

Nyusur History Mudik Movement 12 - “MULIH KA JATI, MULANG KA DIRI”
Minggu, 16 April 2023. 

Titik Kumpul di Red Raws Center. Pukul : 15.00 WIB s/d Buka Puasa.
Rute Nyusur :
Red Raws Center - Simpang Lima Asia Afrika - Alun-Alun Bandung – Red Raws Center.



 

2023 Nyusur History Mudik Movement kembali lagi ke ruang masyarakat dengan tubuh budaya mudiknya, yang setiap tahun digelar, tahun ini adalah tahun ke 12 setelah 3 tahun melewati situasi pandemi. Kali ini menawarkan renungan : “MULIH KA JATI, MULANG KA DIRI”, salahsatu pertunjukan mudik jalanan dengan gagasan gerombolan tubuh-tubuh perantau mencari jalan menuju pulang, sejenak terjebak dalam ruang kerumun bising kota, tubuh-tubuh dengan bertumpuk imaji di ruang publik sesak berdesak. tubuh-tubuh terus mencari dimana kelak mereka menemui tubuhnya sendiri, mencari tanah lahirnya, tubuh mereka menjelma interaksi sosial bergumul dengan keramaian, tubuh budaya mudik terjerembab diruang bising berpolutan, tubuh dengan imaji kebingungan diantara ketidakpastian, saling silang tubuh budaya bertemu tubuh masyarakat yang keos. Tubuh budaya mudik itu berbagi kisah melalui seni pantomim hadir.

Tema yang diusung tahun ini merupakan interpretasi peristiwa seni panggung seni jalanan dari beragam peristiwa sosial personal dan komunal. Yang seakan lupa untuk merawat segala hakikat, segala yang dimiliki pada diri, pada tubuh, jiwa dan nurani yang semakin krisis, keluputan yang terus diingatkan melalui cara dan upaya apapun untuk menemui kesadaran hidup. Percepatan yang semakin mengada-ada, membuat luput akan jeda, menepi sejenak dan menelisik makna essensi mudik tersebut. Bahwa pulang adalah peristiwa seni kehidupan dimana kita kembali ke asal dimana kita lahir dan menemui hakikat diri, bercengkerama untuk pulang pada diri. Andalah saksi seni mudik tahun ini, setelah pandemi.

Mudik merupakan kegiatan perantau untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan, misalnya menjelang lebaran. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, mudik boleh dikatakan sebuah tradisi yang mutlak harus dilaksanakan. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang lama tersebar di perantauan, tentu juga dengan kedua orangtua. Budaya mudik adalah suatu nilai sosial positif bagi masyarakat Indonesia, karena dengan mudik berarti masyarakat masih menjunjung nilai silaturahmi antar keluarga. Dalam mudik khususnya menjelang lebaran saat ini, bukan hanya menjadi milik ummat muslim yang akan merayakan idul fitri 1444 H bersama keluarga namun telah menjadi milik “masyarakat Indonesia”, karena pada dasarnya bersilaturahmi adalah hakikat dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan semestaNya, antar manusia dan alam.

Buat semua yang hendak perjalanan Mudik. Hati-hatilah dengan semua barang bawaan anda. Jaga kesehatan dan keselamatan selama perjalanan dan selamat sampai tujuan, karena saudara dan handai taulan serta keluarga besar menantikan anda di rumah dan bahagia menyertai kita semua. Salam mudikers dari kami…..Selamat lebaran hari raya idul fitri 1444 H -  selamat merayakan mudik semuanya. Terima kasih.

- Seni Pertunjukan Pantomim Mudik yang secara konsisten selama 12 tahun di Indonesia -
Bandung, 16 April 2023

 

Etienne Decroux: Bapak Pantomim Modern Dunia




Pantomim - Mime adalah seni pertunjukan paling kuno di dunia dan sampai sekarang menarik orang dengan cara yang sangat mendalam dan intuitif. (Wanggi Hoed).

Seni Pantomim: Warisan Seni Pertunjukan Dunia





Hidup adalah sebuah siklus, dan pantomim sangat cocok untuk menunjukkan fluiditas, transformasi, dan metamorfosis. Kata-kata dapat memisahkan; pantomim bisa menjadi jembatan diantara mereka.
(Marcel Marceau).

Akhir tahun 2021, kali ini saya akan menuliskan mengenai seni pantomim yang tak pernah dibahas sebelumnya. Memang banyak yang belum dibahas, literasinya saja minim dan jarang di Indonesia. Di toko buku saja tidak ada buku tentang seni pantomim ini, selanjutnya senimannya sendiri yang harus aktif inisiatif mencari sendiri literasi atau bertanya pada seniman yang telah mendedikasikan hidupnya di seni sunyi ini, atau mencari-cari dari laman artikel di internet, atau juga telusuri amazon, disana banyak berjejer buku-buku seni pantomim dari para penulis dan senimannya langsung.

Kalau di Indonesia ada 2 buku yang ditulis oleh Dr. Drs. Nur Iswantara, M. Hum, beliau juga dosen di ISI Yogyakarta. Dua buku itu antara lain: Wajah Pantomim Indonesia terbit tahun 2007 dan Metode Pembelajaran Pantomim Indonesia terbit tahun 2019. Namun saya tidak akan bahas kedua buku tersebut, sebab tahun 2019 penulis sudah bertemu dan membedah bersama 2 buku itu bersama penulisnya. Jadi, lebih baik pembaca cari bukunya dan baca. 

Sebelumnya penulis ingin mengingatkan pembaca tentang pertanyaan sepele tapi berkesan, seperti; coba anda berimajinasi? Sudahkah anda bahagia? Atau sudahkah anda senyum hari ini? Ketiga pertanyaan di atas sudah tidak asing lagi kita dengar di lingkungan sekitar, bahkan dari tempat satu ke tempat lainnya.

Kapan terakhir kali anda mendengar pertanyaan tersebut? Mungkin kemarin, lusa, minggu yang lalu, atau beberapa bulan sebelumnya pembaca sudah dengar pertanyaan yang sama, itu lagi, itu lagi. Ya, semua itu terdengar berulang, tapi baik untuk kita telaah di lain waktu dan lain hal.

Disini saya tidak ingin membahas perihal definisi seni pantomime dan lainnya, lebih dari itu, pembaca akan mendapatkan sesuatu dari warisan seni pertunjukan ini. Warisan yang kadang berbeda sudut pandang, bayangan dan wujudnya. Namanya juga warisan, bebas kita interpretasikan sebab warisan itu bentuk peninggalan yang bernilai, bahkan ada pula warisan yang tak bernilai atau kelam yang diwariskan pewarisnya terdahulu, juga tak semua musti diwariskan toh.

Baiknya saya akan mulai dari apa yang saya ketahui, rasakan dan nikmati sepanjang proses berkesenian saya selama ini. Dari ruang pertemuan ke pertemuan, dari tongkrongan nyata ke tongkrongan virtual hingga nimbrung ke forum santai dan serius saya kunjungi dan hadiri, itu juga kalau ngga bentrok waktunya.

Oke, mari kita mulai.

Hari Pantomim Sedunia adalah Tanda Penghormatan dan Perayaan Marcel Marceau.

Ada yang sudah tahu Hari Pantomim Sedunia dirayakan? Nah! Disini saya akan bahas sekilas sejarahnya. Pada tahun 2004, Organisasi Pantomim Dunia (World Mime Organisation) atau disingkat WMO secara resmi terdaftar sebagai organisasi non-pemerintah dan nirlaba di Serbia. Gagasan Hari Pantomim Sedunia kembali dibahas oleh Marko dan Ofer yang bertahan hingga saat ini. Siapa Marko dan Ofer? Marko Stojanovic adalah Presiden, dan Ofer Blum sebagai Wakil Presiden World Mime Organisation.

Pada tahun 2007 Marcel Marceau meninggal, Ofer dan Marko kembali ke ide mendirikan Hari Pantomim Sedunia untuk merayakan hari ketika Marceau lahir, pada tanggal 22 Maret. Keduanya terus berkomunikasi untuk merealisasikan hari tersebut yang kini kita kenal World Mime Day.

Pada bulan April 2011, Jean Bernard Laclotte telah mengirim email ke Marko Stojanovic dengan ide yang sama dan konsep yang dikembangkan dari Journée Mondiale Du Mime bahwa ia ingin menandai hari ketika Marcel Marceau meninggal. Berkat inisiatif Jean tersebut, Journée Mondiale du Mime dirayakan di beberapa negara di seluruh dunia pada tanggal 22 September 2011 (tanggal dan tahun yang sama juga diperingati di Bandung, Indonesia) diinisiasi oleh seniman pantomim Wanggi Hoed setelah mendapatkan email dari Marko Stojanovic melalui email, saat itu saya masih kuliah di STSI Bandung.

WMO mengakui Journée Mondiale du Mime 2011 sebagai Hari Mime Dunia pertama yang dirayakan dan yang kedua diadakan pada 22 Maret 2012. Walaupun keduanya di bulan yang berbeda namun mempunyai nilai dan ruh yang sama untuk mendedikasikan dan penghormatan terhadap karya-karya Marcel Marceau selama hidupnya.

Hari Pantomim Sedunia di Indonesia pertama kali diperingati di Bandung oleh Mixi Imaji Mime Theatre tahun 2011 dan diinisiasi oleh penulis setiap tahunnya. Pada tahun 2017, penulis membaca pertumbuhan kesadaran akan peringatan ini yang dirayakan di beberapa tempat atau kota, salah satunya di Jakarta dan kota lainnya. Namun beberapa tempat inkonsisten dalam pelaksanaannya, mungkin waktu, teknis atau hilang (beralihnya) si seniman penggerak dari tempat atau daerah tersebut. Apalagi di kondisi pangebluk ini aktivitas berkarya dan berkesenian harus dibarengi strategi dan siasat tertentu.

Tahun 2020 Hari Pantomim Sedunia digelar secara online (Live Instagram) dan tahun 2021 secara hybrid (offline & online) disiarkan langsung dengan pertunjukan Pantomim. Kolaborasi itu bertempat di Perpustakaan Ajip Rosidi melalui youtube dan live instagram bersama dengan Kedai Jante, Tiga Nol Satu Studio dan seniman lintas disiplin (musik, tari dan dongeng).

Di Indonesia sendiri, tepatnya di Bandung, Hari Pantomim sedunia telah 10 tahun diperingati sejak 2011 melalui pertemuan baik di ruang terbuka atau tertutup, dari situ bisa tampak keberagaman lintas seni budaya dan generasi berbaur merayakan. Tiap tahunnya berbeda tempat, pendekatan dan tema perayaan bahkan yang hadir pun juga dari yang tak kenal dan baru kenalan dengan seni pantomim tepat di kegiatan yang dilangsungkan. Terjadi interaksi komunalitas. Nah, pertemuan semacam ini memang menjadi agenda rutin bagi Mixi Imaji Mime Theater tiap tahunnya, semacam rasa reuni tapi bukan reunian. Apa ya namanya? Ya, semacam pertemuan intim, dekat dan akrab.

Konferensi Pantomim Dunia 2021: Pantomim Warisan Seni Pertunjukan

Penulis beberapa minggu yang lalu, tepatnya hari senin 20 Desember 2021 turut hadir di Konferensi Pantomim Dunia 2021 atas undangan memail yang dikirim oleh Marko Stojanovic selaku Presiden World Mime OrganisationWorld Mime Conference (Konferensi Pantomim Dunia) telah digelar sejak tahun 2018, 2019 dan 2020. Kegiatan Konferensi tersebut tahun ini sekaligus merayakan 30 tahun pendidikan pantomim NAFTA (National Academy for Theatre and Film) Sofia, Bulgaria. Konferensi digelar melalui webinar zoom meeting yang dihadiri sekitar 22 peserta dari Eropa dan Asia. Kegiatan berlangsung mengikuti waktu Paris, Berlin, Belgrade, disana pukul 14.00 waktu setempat, di Indonesia pukul 20.15 WIB, konferensi berakhir pukul 23.35 WIB. Diikuti oleh seniman pantomim, akademisi, peneliti semuanya mendedikasikan pengetahuan dan keilmuannya pada seni pantomim sebagai seni warisan pertunjukan juga peradaban manusia dari era tanpa kata hingga perkembangan teknologi digital saat ini.


Beberapa peserta dalam pertemuan tersebut ada yang sudah sepuh, mereka berbagi pengalaman dan kerja keseniannya, kekaryaannya, ekosistem mime, penelitian-penelitian, pengarsipan digital juga pembacaan global serta masa depan pantomim pasca-pagebluk, hingga keberlanjutan hadirnya generasi pada seni ini termasuk juga di Indonesia dan beberapa negara di dunia yang juga menjadi bagian fokus pembicaraan dalam konferensi.

Jelas ini tidak mudah diremehkan, sekelas konferensi pantomim dunia ini adalah bukti otentik atas dedikasi para senimannya dalam mengamalkan pengetahuan dan keilmuannya tersebut. Walaupun dihadiri oleh perwakilan tiap negara atas undangan melalui email, setidaknya Indonesia telah diwakilkan oleh penulis dalam partisipasinya di konferensi tersebut yang dapat berbagi dan menjembatani informasi seni pantomim terkini.

Di Indonesia sendiri, beberapa bulan yang lalu sejak September hingga November 2021 diadakan pertemuan seniman pantomim Indonesia melalui webinar zoom meeting yang diberi nama Pantomeet Indonesia, semacam pertemuan seniman pantomim untuk berbagi perihal literasi, kerja-kerja kesenian, gagasan kekaryaan dan praktiknya, juga pembacaan pantomime dari sudut pandang lintas medium untuk melihat dan menelisik kembali seni pantomim sebelum kondisi pangebluk sekarang ini, bahkan pasca-pangebluk.

Gelombang riuh geliatnya seni pantomime di masa pangebluk ini juga mendorong munculnya pembentukan Asosiasi Dosen Pantomim Indonesia (ADPI), Pantomim Jawa Timur (Pijar), Pusat Studi Mime Wanggi Hoed dan mungkin masih ada lagi  lainnya yang penulis belum cek keberadaannya. Ini merupakan jembatan dari upaya baik untuk menjaga marwah ruh seni pantomim di Indonesia terhadap keberlanjutan literasi, edukasi, ekosistem dan generasi di masa depan.

Kehadiran ketiga inisiatif ini seharusnya disambut baik oleh seluruh seniman pantomim, pelaku seni pertunjukan bahkan institusi pendidikan formal-informal di Indonesia. Mengapa? Karena ketiganya adalah upaya untuk memfasilitasi dan mempertajam lagi ruang kinerja serta praktik kreativitas seni pertunjukan pantomim, hingga memiliki komitmen juga konsistensinya yang kontinyu. Selain itu didalamnya pun memiliki akar dan individu yang mumpuni dalam dedikasinya terhadap dunia seni pertunjukan (baca: pantomim-teater), baik secara personal maupun komunal di tempat atau wilayah masing-masing dan mampu mempertanggung-jawabkan akarya dan kerja seni budayanya serta memperluas jejaring baik untuk seni pantomim dan disiplin lainnya.

Penulis meyakini bahwa lahirnya semacam asosiasi atau apapun namanya yang nantinya mungkin mampu berintegritas dan bermitra dengan lintas disiplin lain, tak ayal hal itu untuk keberlanjutan juga estafet yang selama ini dihidupi dengan kerja-kerja kebudayaan dan ekosistem yang sedang mekar bersemi dalam seni pertunjukan pantomim khususnya, dan seni panggung di Indonesia umumnya. Ssebab seni pantomim itu melintasi bahasa, budaya dan benua juga entitas yang menyeimbangi keberagaman bangsa ini.

Bahwa seni pantomim sepatutnya mendapat tempat yang setara serupa bidang seni lainnya di negeri ini. Dan sudah tidak lagi dipandang atau dilihat sebagai seni hiburan semata dalam kacamata hiburan, bahwa seni ini merupakan bagian dari warisan seni yang harus dilestarikan dan dirawat, sebab ada rekam jejak sejarah yang lahir dan menyebar sampai hari ini, baik kemunculan komunitas maupun individu yang menghidupkan seni pantomim di beberapa tempat atau daerah di Indonesia, kelurahan, kecamatan, kabupaten bahkan yang terlihat di sosial media maupun yang terus bergerak ditempatnya, dengan mengawinkan dan mengangkat gagasan lokal jenius (kearifan lokal). Itu ialah salah satu daya tawar yang bersinergi dan berdaya. Nah, berbagai inisiatif itu semoga saja semakin memperkokoh masa depan seni pantomim di Indonesia, ya semoga saja. 

Yang Imajinasi dan Yang Ilusi

Seni pantomim tak jauh dari kata imajinasi dan pengertian imajinasi itu sendiri adalah kemampuan daya pikir dalam membayangkan atau menciptakan gambaran kejadian berdasarkan pengalaman atas kenyataan yang secara umum dialami.

Di dalam kajian ilmu psikologi, istilah imajinasi dipakai dalam membangun persepsi dari suatu benda yang sudah terlebih dahulu diberi persepsi pengertian. Imajinasi kerap menjadi variabel dalam berbagai studi. Khususnya dalam ilmu psikologi, imajinasi diteliti dan dikaitkan dengan tujuan hidup, kesejahteraan, dan kesehatan mental.

Ada studi baru dari Asosiasi Psychological Science, yang menguji kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui atau yang disebut juga metakognisi dalam fenomena kehidupan yang ada. Dengan imajinasi, kita dapat ‘melihat’ bagaimana hal-hal yang mungkin telah atau dateng di masa depan. Hal ini mungkin tidak mengejutkan, namun, imajinasi yang kuat dapat dikaitkan dengan kreativitas. Imajinasi sangat penting untuk mengatur kehidupan sehari-hari dan membentuk sebuah persepsi.

Joel Pearson salah satu peneliti studi dari Universitas New South Wales menyebutkan bahwa imajinasi mampu membayangkan sesuatu objek dan membuat skenario setelah membayangkan adalah salah satu kemampuan dasar yang memungkinkan kita untuk berhasil memikirkan dan merencanakan peristiwa masa depan. Sudah jelas, bahwa imajinasi memberikan kontribusi yang penting untuk fungsi sehari-hari kita. Ada beberapa kasus, ketika gambaran imajinasi yang sangat tidak masuk di akal, seperti kasus halusinasi visual. 

Lalu apa hubungannya imajinasi, ilusi dan kemunculan halusinasi yang penulis telusuri, ini berkaitan dengan terkontaminasinya imajinasi yang kadang bertolak dari persepsi imajinasi yang merupakan daya pikir dan kritis yang penulis sampaikan diawal tulisan, ini cukup banyak ditemui di beberapa pelaku seni pantomim dalam kekaryaannya terutama di Indonesia, bahkan lebih dominan bisa disebut ilusi dan omong kosong dalam kesehariannya. Mengapa demikian? Kita tengok kembali kata ilusi, menurut Webster Collegiate adalah sesuatu yang menipu atau menyesatkan intelektual; persepsi untuk sesuatu, yang ada sedemikian rupa untuk menimbulkan salah tafsir, dalam kasus ini terhadap penglihatan atau mata (optik). Berbeda dengan halusinasi dimana definisinya hadir atau muncul sebagai persepsi setelah melihat, mendengar, menyentuh, merasakan, atau mencium sesuatu yang tidak benar-benar ada. Dan ini dapat dibuktikan dari penelitian studi Asosiasi Psychological Science.

Dan ketika kita kembali pada seni pantomim yang telah berusia tua ini, dapat dilihat bahwa seni pantomim merupakan salah satu warisan seni pertunjukan yang tak akan pernah hilang, yang didalamnya tumbuh subur dan mekar pada tubuh juga imajinasi sebagai penggerak kehidupan, kesadaran komunal dan jembatan ingatan di masyarakat yang memiliki nilai-nilai luhur kehidupan dalam perabadan manusia. Buster keaton seorang aktor, penulis dan sutradara film bisu seabad dengan Charlie Chaplin berpesan, "mereka mengatakan pantomim adalah seni yang hilang. Pantomim tidak pernah menjadi seni yang hilang dan tidak akan pernah hilang, karena itu terlalu alami untuk dilakukan."

Sampai disini penulis hanya berpesan; seni pantomim itu seni yang sunyi, heningnya mengakrabi tubuh, sepinya menyentuh riuh imaji, maka mendengarlah secukupnya, berimajinasilah secukupnya, baca dan perhatikan sekitarmu dan menulislah untuk sejarahmu sendiri. Pantomim Dimana-mana!

Bandung, 31 Desember 2021.

Wanggi Hoediyatno | Seniman Pantomim Indonesia berdomisili di Bandung.

Ilustrasi: Aploy, 2021.



Tulisan ini telah diterbitkan di platform Hanyawacana.com :
https://www.hanyawacana.com/2022/01/seni-pantomim-warisan-seni-pertunjukan.html

 

Membicarakan Pantomim, Kolaborasi, dan Ruang: Kisah dari Tiga Daerah

Tiga seniman pantomim dari tiga daerah berbeda berbagi berbagi kisah. Farid Mime dari Kediri, Alfan Tomim dari Jombang, dan Wanggi Hoed dari Bandung.





Penulis Tofan Aditya28 Maret 2023


BandungBergerak.id – Di hadapan pengunjung, dengan wajah bercat putih dan pakaian hitam-putih, Nizar mencoba menghibur setiap mata yang memandang ke arahnya. Musik jazz mengiringi setiap gerak-geriknya. Nizar berdansa. Sesekali, dia juga memperagakan bagaimana lawan berdansanya berusaha mengambil benda yang ada di saku celana belakangnya. Riuh tepuk tangan terdengar selepas Nizar, yang juga merupakan seorang Tuli, menyelesaikan aksi pantomimnya.

Tidak hanya Nizar, Farid Mime, begitu ia sering disapa, juga berkesempatan untuk tampil. Sedikit berbeda dengan Nizar, Farid tidak menggunakan musik, dia memilih sebuah kursi sebagai properti. Di awal penampilannya, Farid duduk di kursi. Matanya melihat ke sekeliling. Tak lama, dia berdiri, sedikit membungkuk. Matanya membelalak, lidahnya keluar. Kemudian, Farid jatuh ke lantai. Tubuhnya menggeliat dan bergerak sedikit demi sedikit mengikuti arah kepalanya, seolah lehernya sedang ditarik oleh seseorang.

“Judulnya aja ya Anjing Penjaga,” terang Farid, “jadi dia tadi melet-melet di situ, lirik sana lirik sini, itu kayak ‘disuruh’ dan mau. Pada akhirnya dia kan keseret-seret. Dan matinya gak enak.”

Selain mereka berdua, ada pula Ismail, pemuda asal Jombang, yang ikut mempertunjukkan aksi pantomimnya. Pertunjukkan dari tiga seniman ini adalah agenda pembuka dalam kegiatan Art of Silence, Art of Life pada Sabtu (25/3/2023) sore. Bertempat di Pasar Antik Cikapundung, kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Mime Wanggi Hoed dan berkolaborasi dengan Red Raws Center ini merupakan rangkaian dalam perayaan Hari Pantomim Sedunia 2023 di Bandung.

Selepas pertunjukkan, acara dilanjutkan dengan bincang seni. Di hadapan pengunjung, duduk tiga seniman pantomim dari tiga daerah berbeda: Farid Mime dari Kediri, Alfan Tomim dari Jombang, dan Wanggi Hoed dari Bandung. Dipandu oleh Andy Waluya Wartja alias Kitting, ketiga seniman ini bercerita tentang pantomim, kolaborasi, dan ruang di daerah masing-masing.


Kisah Pantomim dari Jombang, Kediri, dan Bandung

Alfan Tomim diberi kesempatan pertama untuk bercerita. Beliau langsung bercerita tentang kesibukannya saat ini mengurus Sekolah Pantomim Nusantara di kediamannya di Jombang. Berdiri sejak tahun 2019, sanggar seni yang dinamainya sekolah tersebut fokus dalam mendekatkan pantomim pada anak-anak. Bahkan tidak hanya anak-anak, sejak dua tahun lalu, Sekolah Pantomim Nusantara juga fokus kepada kelompok difabel.

Setiap satu minggu sekali, tepatnya hari Jumat, anak-anak berkumpul dan berdiskusi. Di tiap pertemuannya, anak-anak dilatih untuk mengekspresikan imajinasi mereka. Nizar dan Ismail, yang merupakan penampil di agenda sebelumnya, adalah murid dari sanggar ini yang telah bergabung ketika duduk di bangku SMP. Bagi Alfan, Sekolah Pantomim Nusantara adalah upaya untuk menginklusikan pantomim agar dapat dinikmati oleh semua kelompok usia.

“Bagaimana anak-anak menjadikan pantomim sebagai media untuk membebaskan kemerdekaan mereka,” terang pria kelahiran Jember tersebut.

Selanjutnya giliran Farid Mime yang bercerita. Farid mengenal pantomim sejak masih bersekolah di salah satu SMP di Pasuruan, tepatnya tahun 2013. Namun ketika melanjutkan sekolah di salah satu SMK di Kediri, Farid sempat vakum menekuni pantomim. Baru kemudian saat berkuliah laki-laki bernama lengkap Farid Muhammad ini kembali tertarik dengan seni pantomim. Alasannya, belum ada seniman pantomim di daerahnya tersebut.

Bagi Farid, pantomim adalah salah satu cara untuk menyerap dan mengekspresikan perasaan, baik itu yang berasal dari diri sendiri maupun lingkungan. Oleh karenanya, laki-laki yang juga aktif terlibat dalam aksi-aksi di akar rumput ini menganggap bahwa tidak aneh apabila seni pantomim lekat dengan isu-isu di masyarakat, mulai dari isu lingkungan sampai hak asasi manusia.

“Kan aku berangkat dari psikologi gitu, jadi fokusnya lebih ke visualisasi rasa. Jadi, memvisualisasikan rasa apa yang diresahkan diriku gitu, utamanya. Pun dari hal-hal di lingkungan,” ucap Farid.

Sebagai pembicara terakhir, Wanggi Hoed memiliki cerita sendiri. Bagi Wanggi, seni pantomim sudah lama berkembang di Bandung. Nama-nama seperti Dede Dablo dan X Man pernah eksis sebagai pengisi pentas dalam seni yang menjadikan mimik dan gerak sebagai dialog.

Di tahun 2007, bersama Rama Kusnadi, Wanggi mendirikan sebuah komunitas ketika masih berkuliah di STSI Bandung. Komunitas tersebut bernama Mixi Imaji Mime Theater. Sejak tahun 2007 sampai 2011, tahun resmi kelahirannya, komunitas ini aktif berlatih pantomim setiap saat.

“Karena ruangnya kampus bahwa setiap hari latihan, ya tiap hari pertunjukkan,” terang Wanggi, “Latihan itu bagian dari uji coba, gitu.”

Melalui komunitas ini, Wanggi mulai mencoba menyoroti isu-isu kaum marginal dan kelompok minoritas. Suara dari kelompok yang terdiskriminasi terus digemakan. Dari konsistensi Wanggi ini, muncul kemudian wacana ‘pantomim adalah perlawanan’.

Setelah komunitas, Wanggi ingin menaiki tangga lagi. Pijakan yang dipilih adalah dengan mendirikan Pusat Studi Mime Wanggi Hoed. Melalui momen dan movement, Wanggi ingin mencoba membawa pantomim tidak hanya sebagai sebuah seni pertunjukkan, tetapi sebuah seni yang bisa dipandang lebih ilmiah.

Pusat Studi Mime Wanggi Hoed mulai aktif melakukan pendokumentasian arsip, kajian, dan kekaryaan seni pantomim. Pameran poster yang ditampilkan dalam perayaan Hari Pantomim Sedunia di Bandung pada tahun ini juga merupakan hasil dari kerja-kerja Pusat Studi Mime Wanggi Hoed.

“Karena pantomim itu pada akhirnya punya cara kemandirian tersendiri, garis nilainya tadi. Selain seni ini sunyi, tidak begitu populer seperti seni lainnya,” pungkas Wanggi.


Agenda Selanjutnya Hari Pantomim Sedunia 2023 di Bandung

Bertepatan dengan kumandang azan magrib, diskusi pun selesai. Riuh tepuk tangan penonton kembali hadir mengapresiasi gelaran bincang seni bersama tiga seniman pantomim hari ini. Pengunjung, penampil, dan pembicara kemudian buka puasa bersama dengan menyantap camilan yang telah disediakan. Namun kegiatan belum berakhir. Tidak lama berselang, Alfan Tomim, menyuguhkan penampilan penutup dalam acara perayaan Hari Pantomim Sedunia hari ini.

Ke depannya, rangkaian perayaan Hari Pantomim Sedunia 2023 di Bandung masih akan terus berlanjut. Pameran poster dan kegiatan-kegiatan lainnya akan dilaksanakan sampai dengan tanggal 20 April 2023.

Pada Rabu (29/03/2023) nanti, akan ada pemutaran film dan diskusi bersama Alya Nurshabrina, Miss Indonesia 2018, di Red Raws Centre, Pasar Antik Cikapundung, Lantai 3 Blok FC 1, Bandung.

Mime the Language of Peace. Mime the Language of All. Pantomim Dimana-mana.

 

Editor: Ahmad Fikri
Sumber Berita Bandung Bergerak : 
https://bandungbergerak.id/article/detail/15287/membicarakan-pantomim-kolaborasi-dan-ruang-kisah-dari-tiga-daerah

 

Peringatan Hari Pantomim Sedunia di Kota Bandung: Pusat Studi Mime Wanggi Hoed Gelar Pameran

Mochamad Fazhri Syamsi- 27 Maret 2023.







Literasi News – Telah 12 tahun Hari Pantomim Sedunia di Indonesia dirayakan. Sebagai ruang merayakan keheningan mahkluk hidup pada peradaban yang dalam kondisi krisis setelah pegebluk saat ini.

 

Pada tahun 2023 ini, Hari Pantomim Sedunia menampilkan Pameran poster karya pertunjukan dari 19 Titik kota dan negara yang telah masuk dalam kurasi bulan februari hingga maret dengan tema global “2023 THE YEAR OF THE GREATEST MIMES” yang dicetuskan World Mime Organisation.

Untuk mewujudkan perayaan Hari Pantomim Sedunia tersebut, Pusat Studi Mime Wanggi Hoed berkolaborasi dengan Red Raws Center dan Kolaborator lainnya menyelenggarakan pameran poster dan arsip pertunjukan Pantomim dan Bincang Seni “membicarakan Pantomim, Kolaborasi dan Ruang”di Pasar Antik Cikapundung lantai 3 blok FC 1, Kota Bandung , Sabtu 25 Maret 2023.


Dalam Bincang Seni yang merupakan rangkaian acara dari Hari Pantomime Sedunia ini diisi oleh beberapa tokoh pantomim Indonesia di berbagai daerah seperti Wanggi Hoed (Pusat Studi Mime Wanggi Hoed, Bandung) , Alfan Tomim (Sekolah Pantomim Nusantara, Jombang), dan Farid Muhamad (Mime, Kediri).


Kegiatan Pameran tersebut diselenggarakan pada 20 Maret 2023 hingga 20 April 2023 dan merupakan rangkaian acara dari Hari Pantomim Sedunia.

Alfan Tomim, Sekolah Pantomim Nusantara, Ia mengatakan ia mendirikan Sekolah Pantomim Nusantara sebagai sarana ruang berekspresi anak-anak terhadap imajinasi mereka.

“Hampir setiap minggu, satu minggu sekali setiap hari jumat kami bertemu dengan anak –anak, berdiskusi dengan anak-anak. Bagaimana anak-anak menjadikan pantomime menjadi media untuk membebaskan kemerdekaan mereka,” ungkap Alfan saat diskusi di Markas Red Raws Center, Pasar Antik Cikapundung, Sabtu 25 Maret.

Mereka Berfokus untuk mengembangkan pantomim ini untuk isu-isu anak-anak dan Disabilitas. Ia menganggap pantomime dirasakan bagus sebagai media penyaluran ekspresi bagi anak-anak.


Farid Muhamad, Aktor Mime dari Kediri dengan latar belakang jurusan Psikologi, Ia menganggap bahwa pantomime merupakan wujud visualisasi rasa kebentuk olah tubuh yaitu pantomime.

 Pertama kali ia berpantomime ialah pada saat ia kuliah lalu masuk teater, lalu ia ingin melakukan pertunjukan secara mandiri, lalu ialah memilih pantomime hingga sekarang.

“di Kuliah terlalu di tentuin jamnya ini itu ini itu, dan aku gak bisa jadi lebih ke komunitas teater diluar. di teater ini diajari ini ini tapi aku menangkap hal itu sebagai aku ikut tetaer enggak. Tapi aku nyoba sendiri lebih ke perfom art. oh bukan, nanti aku pake make up dan pantomime,” Kata Farid.

Dalam hal ini, Ia menjadi actor pantomime yang pertama ada di Kediri. Menurut keterangan dia Secara spesifik di Kediri belum ada komunitas pantomime yang menaunginya.


Berbeda dengan mereka, Wanggi Hoed lebih memilih Pantomime sebagai media untuk menyuarakan isu-isu yang tak pernah didengar Seperti Isu HAM dan Ekologi.

“Pada saat saya mencari literasi pantomime, sepertinya saya ketipu dengan komedi ini. Karena komedi ini sudah setiap hari dalam kehidupan, menertawakan apapunlah ya,” ungkapnya.

Awalnya ia merasa tertipu dengan pantomime yang selama ini hanya dibalut dengan komedi, namun saat ia mencari latar belakang pantomime tersebut, ia sadar bahwa pantomime sendiri merupakan ruang untuk memberikan pesan lewat gerak tubuh.

Ia berpendapat Karena pantomime sendiri banyak ekspresi di dalamnya, kenapa pada akhirnya ada tawa dan sedih.


“Imajinasi itu bukan hanya yang ada dalam pikiran, tetapi imajinasi juga apa yang kita lihat dan realitaskan” Tambahnya.

Selain itu, Kegiatan tersebut menampilkan Pertunjukan Seni Pantomim dan juga penampilan seni lainnya dari seniman lokal bandung seperti Rattimaya ,Lumensplay, dan Nil Saujana.

Hal tersebut menjadi upaya baik untuk menumbuhkan ekosistem seni pantomime yang ada di Indonesia.

Selain itu tahun ini adalah tahun diperingati 100 tahun Marcel Marceu dan 125 tahun Etienne Decroux sebagai perayaan dan penghormatan kepada karya dan pemikiran mereka terhadap pantomime.

Hari Pantomim sedunia diperingati sejak 2011 dan diikuti 40 negara di 4 benua hingga saat ini termasuk Bandung, Indonesia.***


Sumber berita dari Literasi News dot com

https://literasinews.pikiran-rakyat.com/peristiwa/pr-926481165/peringatan-hari-pantomim-sedunia-di-kota-bandung-pusat-studi-mime-wanggi-hoed-gelar-pameran

 

Hari Pantomim Sedunia 2023 di Bandung: Perayaan Menembus Keheningan

Pusat Studi Mime Wanggi Hoed bersama Red Raws menggelar pameran poster dan arsip pertunjukan pantomim di Red Raws Center, Kota Bandung, sebulan penuh.





Penulis Dini Putri22 Maret 2023


BandungBergerak.id – Hari ini, pada setiap tanggal 22 Maret , dunia memperingatinya sebagai Hari Pantomim Sedunia. Perayaan yang di inisiasi oleh World Mime Organisation, organisasi yang berasal dari pelaku pertunjukan seni pantomim yang tersebar di 40 negara di 4 benua. Perayaan tersebut merupakan penghormatan pada pemikiran dan karya-karya Marcel Marceau , aktor pantomim Prancis yang lahir 22 Maret 1923, satu abad yang lalu. Seniman tersebut meninggal 22 September 2007 setelah lebih dari 60 tahun berkiprah menggeluti seni yang disebutnya sebagai “seni keheningan”.

Seniman pantomim di Indonesia mulai merayakan Hari Pantomim Sedunia pertama kali tahun 2011. Tahun 2023 ini, seniman Bandung  turut andil memperingatinya dengan menggelar pameran poster dan arsip pertunjukkan pantomim oleh Pusat Studi Mime Wanggi Hoed bersama Red Raws di Red Raws Center, Pasar Antik Cikapundung Latai 3, Blok FC 1, Kota Bandung yang dimulai Senin (20/3/2023) hingga satu bulan ke depan.

Ada ratusan poster dan arsip pertunjukkan pantomim yang dipamerkan. Seluruhnya berjumlah 149 item poster dan arsip pertunjukkan yang dikumpulkan dari 21 wilayah di Indonesia termasuk beberapa yang berasal dari luar negeri seperti Malaysia dan Perancis.

Ketua Raws Syndicate, Wahyu Dhian mengatakan, pameran tersebut sekaligus menjadi upaya mengarsipkan perjalanan senin pantomim khususnya di Bandung. Pengarsipan sering kali terabaikan di masyarakat sehingga memori-memori yang ada mengenai suatu peristiwa menjadi terlupakan.

“Pantomim ini kan sebenarnya seni-seni yang kurang mendapatkan atensi di masyarakat, tapi pelakunya ada. Nah, temen-temen ini praktik-praktiknya itu perlu dicatatkan biar jejak rekamnya terhadap perjalanan pantomim Indonesia ini bisa diceritakan kemudian,” ujar Wahyu.

Wahyu yang juga menggeluti dunia fotografi bersama komunitasnya merasakan keterkaitan dan kesamaan dengan seni pantomim. Fotografi juga senin pantomim, menjadi media untuk mengekspresikan berbagai macam hal, termasuk kritik sosial juga alat perlawanan.

“Persamaannya mungkin ya medium ini kami jadikan sebagai alat melawan, melawan apapun lah yang menurut kami kurang berkenan. Ya akhirnya ketemu lah gitu kan pantomime dan fotografi dalam kesamaan ideologi,” ujar Wahyu.

Wanggi Hoed, seniman pantomim Bandung mengatakan, tujuan pameran tersebut sekaligus mengenalkan seni pantomim yang mengajarkan kita mengenai makna hidup sehari-hari. Pameran tersebut juga menjadi upaya mengarsipkan perkembangan seni pantomim di Indonesia, khususnya di Bandung.

“Repertoar ini hanya mengingatkan, menjembatani aktivitas-aktivitas manusia yang semakin cepat itu. Seseorang bisa terkenal dan sukses dengan cepatnya, juga bisa hancur seketika dalam waktu yang singkat oleh perilakunya sendiri,” ujar Wanggi.

Wanggi mengatakan, poster yang dipamerkan sekaligus menjadi pengingat perjalanan pantomim di Indonesia. Poster tersebut juga menjadi arsip yang berharga untuk keberlangsungan pertumbuhan seni pantomim selanjutnya.

“Poster ini kan bisa berbicara banyak ya gitu, dari segi tempat, tanggal, dan termasuk momen tadi ya, dan mungkin hanya tersimpan di file, di hardisk, di laptop, sosial media, selesai. Nah, saya coba mengawetkan itu untuk bisa diapresiasi oleh semua orang. Bahwa poster kalian bisa berbicara dan poster kalian adalah sejarah milik kalian sendiri, karena ini jejak rekam yang mungkin kalian lupa tapi pasti ada orang yang mengingatkan,” ujar Wanggi.

Beragam Acara

Ada beragam acara yang dipersiapkan mengikuti agenda pameran. Mulai dari pemutaran film dokumenter mengenai pantomim, pertunjukan seni dan diskusi, serta peluncuran buku yang mengkolaborasikan fotografi dan pantomim dalam konsep cerita. Pameran poster dan arsip dibuka pertunjukkan pantomim oleh Wangi, pembacaan dongeng oleh Ratimaya, serta penampilan musik akustik oleh Nil Saujana.

Wanggi membuka pameran dengan pertunjukkan pantomim berdurasi 60 detik yang bercerita tentang roda kehidupan yang dijalani manusia. Lewat penampilannya, ia mencoba untuk mengangkat makna dialektika kehidupan manusia yang dipenuhi pasang surut dalam 60 tahun rata-rata rentang usia manusia.

Ratimaya yang ikut meramaikan pembukaan acara dengan mendongeng kisah yang menyoroti pentingnya menjaga ekosistem hutan dan pelestarian pohon bagi keberlangsungan hidup manusia. Ia menjelaskan jika dongeng juga memiliki beberapa relevansi dengan pantomim sebagai seni pertunjukan dan juga wahana edukasi masyarakat yang manfaatnya bukan hanya ditujukan kepada anak-anak, namun bisa dinikmati pula oleh semua kalangan.

 “Dari dongeng kita bisa mengajarkan kepada para pendengar gitu ya, supaya mereka bisa peka terhadap orang yang sedang berbicara, terus bisa mengolah imajinasi mereka juga, mereka bisa mendapatkan kosakata baru, mereka bisa melihat satu pergerakan dalam si dongeng itu. Jadi banyak banget poin yang bisa didapatkan ketika temen-temen itu menikmati dongeng,” ujar Ratimaya.

 

Editor: Ahmad Fikri
Sumber Berita : BANDUNG BERGERAK 
https://bandungbergerak.id/article/detail/15251/hari-pantomim-sedunia-2023-di-bandung-perayaan-menembus-keheningan#:~:text=Penulis%20Dini%20Putri22%20Maret,memperingatinya%20sebagai%20Hari%20Pantomim%20Sedunia.