Jumat, 11 November 2011

Kampanye Selamatkan Heritage lewat Pantomim


“Kampanye Selamatkan Heritage lewat Pantomim”
Thursday, 08 September 2011
Harian Seputar Indonesia l SINDO

Muda,kreatif,dan multitalenta,itulah yang menggambarkan sosok Wanggi Hoediyanto Boediarjo. Kiprahnya di seni teater dimulai sejak masih mengenyam pendidikan di SMA Muhamadiyah Cirebon.

“Awalnya saya memang sering main-mainin tubuh yang sering kali dilakukan ketika jam pelajaran sekolah lagi senggang,”ujarnya kepada SINDO. Dari kegemaran itulah sang kepala sekolah kerap mengamati gerak-gerik Wanggi,dan berinisiatif untuk membuat ekstrakurikuler (ekskul) teater.Wanggi pun diminta sekolah untuk menghidupkan seni teater. “Kepala sekolah saya ternyata dulunya adalah seorang penulis naskah, sehingga dia tertarik dan meminta saya memajukan seni teater di sekolah,” kenang Wanggi. Perjalanan pria 23 tahun ini untuk menekuni bidang seni teater semakin kuat setelah dia memutuskan untuk berkuliah di Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung.

Wanggi aktif bergabung ke berbagai organisasi. Seperti Teater Cassanova, Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng,Komunis Kampus STSI,dan Mixi Imajimimetheatre Indonesia.“Di sini (STSI),saya semakin menyukai pantomim.Seni ini memang merupakan bagian dari teater,”kata pria kelahiran Cirebon,24 Mei 1988,ini. Melalui pantomim, Wanggi memiliki tekad untuk mengampanyekan penyelamatan dan pelestarian heritage, serta warisan budaya Indonesia maupun dunia.Uniknya, dia memiliki cara berbeda,yakni berkampanye menjelajahi Indonesia dengan cara backpacker.

“Ide ini muncul dengan nama nyusur history. Titiknya saya ambil ke kotakota besar Indonesia,mulai dari Bandung,Jakarta, Tangerang,Yogyakarta,dan kota-kota lain yang sudah saya rencanakan,”papar Wanggi. Perjalanan luar kota pertama yang dilakukan Wanggi bersama sahabatnya, Irwan Nu’man,adalah Kota Tangerang.Dengan tas besar di punggungnya dan semangat mengampanyekan heritage,dia menempuh kota tersebut untuk unjuk gigi di Festival Cisadane.“Sekali pertunjukan membuat saya tidak puas,hingga akhirnya saya putuskan untuk bertolak ke Jakarta.Tapi kawan saya, Irwan,memilih untuk pulang ke Bandung,”ungkapnya.

Dengan dana seadanya, Wanggi menempuh Jakarta melalui kereta api.Kota Tua yang dipilihnya.Namun sayang,Wanggi sempat diusir petugas keamanan karena dianggap membuat keributan.Perjalanannya pun berlanjut menuju Taman Ismail Marzuki dengan harapan bertemu dengan seniman-seniman Indonesia. Di sana,pria pehobi bersepeda ini memiliki kesempatan untuk tampil di acara “Bulan Soekarno”yang kebetulan sedang berlangsung. Tanpa persiapan dan hanya berupa keinginan spontan, Wanggi mempersembahkan repetoar berjudul Hadiah Buat Sang Fajar di depan keluarga Soekarno,Ketua MPR RI Taufik Kemas,dan para pejabat lain.

“Untuk pertunjukan ini,saya hanya meminta izin kepada keluarga Soekarno.Alhamdulillah, berkat mereka saya bisa persembahkan hadiah ini,” tambah Wanggi.Lewat pengalaman tersebut,Wanggi menyadari jika hal ini merupakan cambuk baginya untuk tetap berkarya,dan membuka mata Indonesia jika pantomim bisa diterima di _mana saja.

NENI NURAENI
Kota Bandung

Sumber :
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/426013/








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar