Sabtu, 03 Maret 2012

INILAH JABAR : Hari Gizi Dilupakan, Wanggi Sindir Lewat Pantomim Hari Gizi Dilupakan, Wanggi Sindir Lewat Pantomim





Oleh: Dery Fitriadi Ginanjar
Jabar - Selasa, 28 Februari 2012 | 23:01 WIB

INILAH.COM, Bandung - Merasa prihatin pemerintah melupakan Hari Gizi Nasional, Wanggi Hoediyatno menggelar pantomim di seputaran Gasibu dan Gedung Sate Jalan Diponegoro Kota Bandung, Selasa (28/2/2012). Aksi pantomim yang diperagakan Wanggi mengambil tema Sehat Itu Milik Siapa?.

Aksi pantomim yang dimainkan Wanggi cukup menarik perhatian warga, terutama pengendara yang melintas daerah tersebut. Bahkan beberapa pengendara memperlambat kendaraannya untuk sekadar melihat aksi Wanggi.

Wanggi yang mengenakan baju khas pantomim, seperti jas abu-abu, celana pendek, dan topi caping, memerankan sosok rakyat yang menderita kekurangan gizi. Dia pun membawa botol susu dari plastik bening ditambah selang berukuran kecil. Seperti merasakan kegetiran mereka, Wanggi mengekspresikannya dengan raut muka merana. Bibirnya bergetar saat menyedot susu di tangannya.

Pria ini memulai aksinya di depan taman Gedung Sate. Sesekali Wanggi duduk, berdiri, duduk, berdiri lagi. Terus-terusan seperti itu, seolah menggambarkan kegalauan yang menimpa rakyat kurang gizi. Untuk lebih memberi kesan mewakili rakyat dari golongan itu, Wanggi menenteng dan memperlihatkan foto seorang anak gizi buruk.

“Hari ini adalah Hari Gizi Nasional. Tetapi pemerintah seolah melupakannya. Akibatnya luput dari ingatan publik. Saya mencoba me-reply tragedi kemanusiaan marasmus (busung lapar karena kekurangan kalori) dan kwashiorkor (kekurangan protein). Kasusnya sudah sekitar 80 persen dari total anak balita di negeri ini. Bahkan masyarakat dunia sampai menyebut Indonesia sebagai negeri busung lapar,” ungkap Wanggi kepada wartawan di sela-sela aksinya di depan Gedung Sate Jalan Diponegoro Kota Bandung, Selasa (28/2/2012).

Wanggi mengaku mempersiapkan aksi pantomimnya selama dua minggu. Dia ingin mengingatkan seluruh elemen masyarakat soal pentingnya gizi bagi anak. Nantinya masyarakat bisa melihat anak-anak tersenyum lepas karena tidak menderita kekurangan gizi.
“Melalui refleksi repertoar pantomim ini, saya harap kita bisa tersenyum melihat anak-anak generasi bangsa beraktivitas ceria. Tanggung jawab ada di pundak kita,” tuturnya.[jul]


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar