Selasa, 29 Oktober 2013

Sirkus Kontemporer ‘Chabatz D’Entrar’ - Merespon kehidupan lewat bambu

Sirkus Kontemporer ‘Chabatz D’Entrar’

Merespon kehidupan lewat bambu

Jumat, 14 Juni 2013 17:30 WIB (137 hari yang lalu) 
Editor:

Permainan egrang dalam sirkus kontemporer Chabatz D’Entrar  
(Foto: lensaindonesia.com/Teguh RA)

LENSAINDONESIA.COM: Jangan sepelekan bambu. Bambu ternyata memiliki filsafat kehidupan manusia, bisa rapuh jika tak dijaga dengan keseimbangan alam. Apalagi bambu sifatnya lentur, bisa tekuk kearah manapun seperti kehidupan manusia. Lewat pertunjukan sirkus kontemporer ‘Chabatz D’Entrar’ yang menggunakan properti bambu, tontonan ini sangat menarik.
Permainan egrang dari bambu yang digarap oleh dua seniman dari dua negara yaitu Perancis dan Indonesia, Chabatz D’Entrar sangat hidup. Pohon bambu yang meliuk-liuk sangat menarik bahkan ingin diambil orang. Ininal tontonan berdurasi satu jam sirkus kontemporer Chaabatz D’Entrar dalam rangka Printemps Francais 2013 yang berlangsung di Concer Hall Taman Budaya Yogyakarta, Jumat (13/6) malam.
Le Prancais Francais adalah sebuah festival seni dan budaya Prancis yang diadakan oleh Institut Prancis di Indonesia (IFI) yang merupakan kerjasama dan kebudayaan kedutaan besar Prancis. IFI-LIP (Lembaga Indonesia Prancis) menggelar pertunjukan sirkus kontemporer Chabatz D’Entrar setelah sukses keliling Indonesia di kota Medan, Makasar, Balikpapan, Surabaya, Malang, Bandung, Jakarta dan Yogyakarta yang merupakan kota terakhir.
Dengan tema ‘Di sini, sekarang dan di sana’ yang dipersiapkan di Bandung selama dua bulan. “Kami menyiapkan selama dua bulan dan saling tukar pikiran dengan seniman Prancis. Dengan bekal berbagai disiplin pantomim dan tari akhirnya terwujud tontonan ini,” kata Wanggi, salah satu seniman dari Bandung, yang ditemui sehabis pertunjukkan.
Chabatz D’Entrar mampu mengeksplor berbagai gerakan bambu yang dinamika. Ia bisa berubah menjadi bentuk permainan akrobatik yang menawan. Bahkan jadi permainan tradisional yang biasa ditemui di Indonesia. Lewat permainan egrang, seniman dua negara itu ingin menunjukan kebolehannya baik dari segi tontonan dan artistik. Apalagi musik juga berubah jadi musik discotik, maka para pendukung sirkus itu mengikuti irama. “Musik kadang mengikuti ritme gerak atau sebaliknya gerak yang mengikuti musik,” ujar Angkuy, penata musik.
Ada delapan repertoar musik yang ditampilkan. Semua diciptakan melalui diskusi panjang. Karena menggunakan peralatan modern, Angkuy sering kesulitan mengetengahkan nuansa tradisional. Maka jalan yang ditempuh ia sering merekam suara angin atau burung dan dijadikan satu dalam olahan musik yang canggih.
Pertunjukan Chabatz D’Entrar identik dengan penggunaan barang sehari-hari bambu dan egrang. Dengan kolaborasi Prancis dan Indonesia, penggunaan bambu untuk menciptkan efek keseimbangan antara unsur modern dan tradisional. ‘Di sini, sekarang dan di sana’ ingin menunjukkan adanya ketidakseimbangan alam akibat pembangunan gedung dan dampak negatif yang akan diperoleh manusia di masa depan.

Website : http://www.lensaindonesia.com/2013/06/14/merespon-kehidupan-lewat-bambu.html  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar