Selasa, 05 Januari 2016

Nyusur History Indonesia, Ingatkan penghuni (Publik) yang lupa ruang (Publik)


Oleh : Wanggi Hoed


Kehidupan dalam ruang publik seperti sebuah pertemuan bebas yang penuh pengalaman dari publiknya sendiri, Ia sejenak melepas lelah, mengatur nafas lalu melanjutkan perbincangan kembali hingga persaudaraan kerap terjalin didalamnya.” - wanggi hoed -


Mendengar kata Nyusur History Indonesia, kita akan diingatkan kembali pada bagian per-kalimat bila kita ambil per-kata dan disana memiliki filosofi tersendiri, seperti Nyusur; seperti sebuah penyusuran pada tempat/ruang tertentu, History; dalam bahasa Indonesia yang berarti sejarah, suatu ilmu kesejarahan dalam hal ini edukasi ataupun pengetahuan, dan Indonesia; sebuah negara yang akan keanekaragaman adat dan sumber daya alam serta warisan budaya yang masih terjaga dibeberapa pulau dan nusantara di tanah air kita yang berkebhinekaan tunggal ika ini, dari situlah mereka menamakan dirinya dengan Nyusur History Indonesia yang mencoba mengingatkan dan mengajak masyarakat Indonesia (Nusantara) untuk mengenang dan melestarikan beberapa warisan budaya yang masih tersisa dengan membuat konsep yang membuka ruang seni silaturahmi di ruang publik, melalui pendekatan seni pertunjukan jalanan (pantomime, musik, performance art, tari, sastra, media rekam, rupa/lukis) dalam satu ruang bersama dan bukan sekedar menciptakan perisitwa melainkan menghidupkan ruang yang telah hilang dari publiknya, mereka menjadi ruang yang tersebut meraung dan bernyawa juga memberikan pesan melalui bentuk seni pertunjukan jalanan, yang dipresentasikan oleh masing-masing senimannya.
Mungkin ini bisa disebut sebagai Project Art Intercultural yang melintasi berbagai ilmu disiplin seni/non seni serta lintas budaya juga pengalaman senimannya dan selain berbagi dan mempresentasikan sebuah karya dalam satu ruang, dimana Nyusur History Indonesia memilih ruang pada dimensi ruang publik sebagai panggung/arena pentas untuk menampilkan karya mereka kepada masyarakat luas, mereka juga tak jarang sebagai fasilitator diruang yang belum pernah terjamah. Berawal dari sekedar meluangkan waktu yang bila tak digunakan akan menjadi sia-sia dan tak berguna. Lalu mencoba membuka-buka beberapa media cetak dan online serta majalah-majalah juga artikel yang telah kadaluarsa juga berita terkini dan semuanya tak didapatkan mengenai persoalan sebuah ruang yang menjadi kebutuhan publik, entah itu taman ataupun tempat berkumpulnya masyarakat dalam satu ruang untuk bertemu dan bersilaturahmi
dan bercengkrama dengan bahagia dan bebas di ruang terbuka.
Nyusur History Indonesia yang merupakan program/project karya dari Mixi Imajimimetheatre Indonesia yang memberi serta berbagi ruang untuk masyarakat dari kalangan seni dan non seni, Nyusur History Indonesia adalah komunitas independent yang mengajak lapisan masyarakat Indonesia untuk bersilaturahmi lebih dekat, mengenal, mengenang, melestarikan dan menjaga serta menyuarakan juga mengkampanyekan sejarah warisan budaya (seni, sejarah serta budaya) dari khazanah Indonesia dan dunia, dengan cara dan ciri individunya dalam proses berkarya pada ruang publik. Adapun bentuk nyata dari Nyusur History Indonesia adalah membuat ruang seni silaturahmi sejarah budaya, yang dimana sajian wisata seni pertunjukan dan sejarah budaya (ada pertunjukan pantomime, musik, teater, tari, rupa, media rekam) dari tradisi hingga kontemporer-an, mereka juga menggali kembali nilai-nilai history yang
dahulu pernah ada dengan menyusuri beberapa tempat-tempat yang memiliki nilai yang bersejarah dengan adanya kemasan seni pertunjukan dengan konsep bebas tapi sopan dan tak ada yang bayar tetapi kebahagian hadir ditengah-tengah aktivitas mereka.
Nyusur History Indonesia melakukan perjalanan penyusuran tersebut dengan cara Backpacker yang mereka sebut Backpacker Nyasar Nyusur History Indonesia, dimana menciptakan ruang publik bertemunya lapisan masyarakat seni dan non seni, dalam hal ini mereka juga bukan sekedar mengunjungi tempat bersejarah melainkan juga mereka menggelar seni pertunjukan di halaman (ruang publik) tempat bersejarah tersebut, bukan hanya menampilkan seni pertunjukan dan mengunjungi tempat yang memiliki sejarah saja, tapi juga mereka bersilaturahmi dan berbagi serta saling tukar informasi, menjalin komunikasi dan tali silaturahmi dan menjadikan yang biasa saja menjadi ruang hidup dari para manusia dan penghuninya. Nyusur History Indonesia juga melakukan kampanye universal yang mereka serukan : “Save Our Heritage, Semoga Bukan Hanya Di Bibir Saja” disinilah misi mereka guna sebuah penyelamatan,
mempertahankan dan melestarikan beberapa warisan budaya (world heritage) serta warisan seni, sejarah budaya yang masih ada hingga kini.
Sudah 10 Kota di beberapa titik ruang publik di Indonesia yang telah mereka singgahi dan melakukan perjalanan ala backpacker ke titik situs dan tempat bersejarah juga ruang seni dan ruang urban sebagai titik kehidupan masyarakat kini dan kesemuanya dipentaskan dengan seni pantomime yang di inisiatori oleh Aktor Pantomime Wanggi Hoediyatno, kota yang disinggahi tersebut antara lain: Bandung (Gedung Merdeka, Jalan Braga, Gedung De Vries, Gedung Sate, Alun-Alun Bandung, Depan Mall Bandung Indah Plaza, Taman DAGO, Terminal Cicaheum), Jakarta (Kota Tua Fatahillah, Taman Ismail Marzuki, Galeri Cipta, Museum Nasional, Monumen Nasional), Tangerang (Festival Sungai Cisadane, Alun-Alun Tangerang), Solo (Keraton Surakarta, ISI Solo, Jalan Slamet Riyadi, Pasar Tradisional), Yogyakarta (Titik Nol Kilometer, Malioboro, Keraton, Museum Kepresidenan, Pantai Parang Kusumo “Gumuk Pasir”, ArtJog 2012, Ramayana Theatre), Cirebon (Halaman Balaikota Cirebon, Alun-Alun Kejaksan, Jalan KS Tubun “Piknik Project Studio”), Indramayu (Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah), Bali (Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Batu Monumen Bom Bali, La Pau, Gedung Kesenian Bali, Svara Semesta “Ayu Laksmi”), Tasikmalaya (Pasar Tradisional, Gedung Kesenian Dadaha), Sukabumi (Pantai Ujung Genteng, Pasar Tradisional).
Muncul ide untuk melakukan perjalanan itu sendiri pada tahun 2009, yang awalnya berasal dari pola latihan pantomime seorang Wanggi di beberapa titik ruang publik di Bandung, dari situlah Wanggi mengajak Irwan Nu’man (pemain trumpet) mencoba untuk melakukan perjalanan ala backpacker yang hingga terrealisasikan dengan petualangan membawa misi pengingatan dan penyelamatan serta pelesatarian bangunan tua (cagar budaya) melalui media seni pantomime (pertunjukan) yang tidak pernah dilakukan oleh seniman Indonesia dengan konsep backpacker (low cost) dan mereka mengangkat juga isu-isu publik yang mereka kunjungi saat diperjalanan. Mereka memiliki prinsip berkarya bahwa ketika melakukan performance bila ada dan tidak ada pentonton akan terus berjalan, karena mereka tidak memikirkan berapa banyaknya penonton/publik yang hadir di ruang tersebut, karena alam dan ruang
tersebutlah yang akan menciptakan ruang juga peristiwa yang dimainkan oleh senimannya pada saat itu. Selama melakukan perjalanan tersebut mereka juga tak jarang mendapat perlakukan yang tidak adil, diskriminatif dan semena-mena di beberapa titik ruang publik oleh aparat dan pihak keamanan serta oknum tertentu, dan pernah pula menjadi korban tindak kekerasan dan kriminalitas di ruang publik, tetapi mereka (Nyusur History Indonesia) terus melakukan perjalanan, terus menciptakan karya, terus berbagi pengalaman yang mereka temui dalam tiap perjalanannya, terus melanjutkan untuk menyusuri ruang-ruang publik yang harus di beri nafas agar ada sebuah aktivitas kreatif dari publik luas secara intens, selain dari itu pada perjalanan Nyusur History Indonesia memiliki pengalaman yang berkesan juga sangat bangga adalah ketika Wanggi melakukan pertunjukan pantomime di depan Gedung Merdeka dan sempat diliput oleh TV Kabel dari Belgia dan ternyata di siarkan di 25 negara di eropa, dan disinilah dunia kesenian mendapat tempatnya sebagai seni perubahan melalui media elektronik yang Wanggi sendiri tak menyangkanya bahwa seni pertunjukan di jalanan (street performing art) dengan pantomime yang di tampilkan oleh Wanggi di ruang publik menjadi tempat pengingatan agar publiknya tidak lupa pada ruangnya sendiri dan publiknya bebas untuk berekpres, beraktivitas memanfaatkan ruang publik dimanapun dengan cara serta ciri dan kreativitasnya, Mengutip perkataan Mahatma Gandhi : “Kebebasan tidak pernah dapat ditukarkan dengan harga berapapun, Itu merupakan nafas kehidupan. Apa yang tidak akan dibayar seseorang untuk tetap hidup?”
Bandung, 9 April 2014

Wanggi Hoediyatno, Seniman Pantomime.
Lahir di Palimanan – Cirebon, Kini Tinggal di Bandung.
Penggagas Mixi Imajimimetheatre Indonesia, Nyusur History Indonesia, Komunis Kampus, Indonesian Mime Artist Association, Aksi Kamisan Bandung dan tergabung di Teater Cassanova, Paguyuban Sepedah Baheula & World Mime Organisation.
Ia juga pernah berkolaborasi dengan Syafiq Effendi Faliq, Aktor Pantomime dari The Qum Actor (Malaysia) dan pada 2013 ia juga telah sukses berkolaborasi bersama Kelompok Sirkus Teater Chabatz De’Entrar dari Perancis dan melakukan pentas sirkus tour Indonesia, Timor Leste dan Vietnam. Wanggi juga telah berpantomime selama 12 Jam Non-Stop di Indonesian Dance Film Festival dan 6 Jam Non-Stop di Situs Penjara Bung Karno. Melakukan Workshop Pantomime dan Therapy Tubuh di beberapa kota, dan juga bergandengan bersama Kontras menyuarakan isu anti-kekerasan dan HAM juga bersama Greenpeace menyuarakan isu lingkungan. Kini Ia sedang mempersiapkan pentas pantomime pada karya selanjutnya: “Nostalgia Imaji” yang akan di pentaskan keliling pada tahun 2014. Selain itu Ia juga sedang mendalami yoga dan mendisiplinkan tubuh sebagai media therapy untuk masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar