Selasa, 05 Januari 2016

Wanggi, Beratus Kali Suarakan Isu Kemanusiaan

 17.01.2015 

 

WANGGI Hoediyatno, seniman yang akrab dipanggil Hoed. Ia adalah seniman pantomim muda asal Cirebon. Ia lahir di Palimanan, Cirebon, 24 Mei 1988. Hoed ini anak keempat dari lima bersaudara, dari pasangan Rahudi Budiarjo dan Leli Sulaeli.  

Ia mulai menyenangi seni olah tubuh sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, hingga ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Pertunjukan-pertunjukan pantomim telah ia gelar di dalam maupun luar negeri, dari pinggir jalan hingga gedung-gedung pertunjukan.

Usianya relatif muda. Namun, Wanggi memiliki visi ke depan dengan menekuni pantomim. Terlebih, apa yang dilakukannya itu dilakoni dengan penuh rasa cinta. Itulah hal pertama yang diungkapkan olehnya.
Kecintaan Wanggi terhadap pantomim itu kerap dilakukan dengan aksi nyata. Sejak 18 Juli lalu, dia bersama komunitas Mixi Imajimime Theatre Indonesia dan Indonesian Mime Artist Association melakukan aksi Kamisan yang lebih dikenal dengan Aksi Melawan Lupa.

Saat itulah kepiawaian Wanggi sebagai seniman pantomim muncul dan berkembang, meskipun tak semulus yang orang bayangkan. Ia mengakui, banyak kalangan yang belum menerima pantomim sebagai seni yang patut diapresiasi.

Aksi tersebut rutin dilakukan oleh Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) bersama dengan keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Di Jakarta, aksi di pertengahan pekan itu rutin dilakukan di depan Istana Negara.

Selain keluarga korban HAM, mereka yang terlibat dalam aksi Kamisan itu yakni para aktivis, masyarakat, tokoh, beserta mahasiswa yang menuntut Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono waktu itu agar segera menuntaskan semua kasus pelanggaran HAM.

"Kalau di Bandung yang dilakukan di depan Gedung Sate, ini baru beberapa kali. Tapi, di Jakarta sana aksi Kamisan ini sudah dilakukan sebanyak 310 kali. Dari ratusan aksi itu kita selalu diabaikan oleh pemerintah," paparnya.

Setiap Kamis, lanjut Wanggi,  kita mengirim surat kepada Presiden SBY waktu itu, agar menuntaskan kasus pelanggaran HAM.  Tapi tetap belum ada jawaban.

Janji Terus Bersuara

Pria ber kumis tebal itu mengaku aksi yang dilakukan itu mendapat trasformasi energi dari ibu kota negara. Aksi yang dilakukan itu tak lain untuk mengingatkan kembali kepada pemerintah. Hingga saat ini semua kasus pelanggaran HAM di Indonesia belum ada yang dituntaskan.

Menurut Wanggi, bahasa tubuh adalah bahasa yang universal. Semua manusia akan memahami tanda-tanda gerak tubuh yang sifatnya konvensional. Ia mengakui akan terus bersuara dalam diam, bergerak menyampaikan isu-isu sosial kemanusiaan dari gedung pertunjukan hingga jalanan.
"Saya menghidupkan pantomim, sehingga pantomim pula yang menghidupkan saya. Saya akan terus berpantomim sampai benar-benar tak sanggup lagi untuk bergerak dan bila imajinasi saya sudah pupus," tutup Wanggi. ***

[] Agvi Firdaus, Anthea Novita, Dea Andriyawan, Elma Salma Zakiah | Prodi Jurnalistik UIN Bandung

 Website : http://bandungoke.com/view.php?id=20150112100733

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar