Selasa, 05 Januari 2016

Wanggi Hoediyanto, Pantomim Lokal yang Mendunia

Bandung, UPI





Merintis karier sebagai pantomimer membuat Wanggi Hoediyatno memahami seni sebagai idealisme tertinggi dari manusia. Dimulai dari nol, karier seni pantomim yang telah merambah hingga kancah internasionalnya tak ayal menemui jalan tak mulus. Bukan sekali dua kali saja. Tapi rintangan demi rintangan membuat Wanggi semakin teguh sebagai seniman lokal pantomim dan menggerakan Mixi Mmajimimetheater, sebuah ruang yang bukan hanya tempat latihan pantomimer, melainkan tempat diskusi dan tempat imajinasi para manusia yang tertarik akan seni.


Dimulai sejak 2007, komunitas Imajimimetheather yang ber-basecamp di kost-an Wanggi sendiri, terbentuk. Komunitas yang kini bernama Mixi Imajimimetheater ini awalnya berjumlah 15 orang, namun kini hanya menyisakan 3 orang. Konsistensi Wanggi yang ingin menghidupi dunia pantomim lokal membuatnya bertahan hingga 8 tahun lamanya. Dia membebaskan saja siapa yang pergi dan siapa yang datang untuk mengikuti jejaknya. Karena seni merupakan panggilan jiwa, katanya.

Wanggi memulai dunia pantomim dengan mengamen di jalanan, menjadi ‘manusia silver’, hingga menjadi seperti sekarang ini. Perjalanan kariernya tak jarang diputar-balikan keadaan yang tidak malah menjadikannya mundur. Pernah pada tahun 2011, hasil pertunjukannya dirampas habis oleh para kriminal. Braga, tempat kariernya lahir, pada saat itu harus menjadi saksi bisu pula kekecewaan Wanggi terhadap keadaan sosial. Namun karena kejadian itu, Wanggi malah menggelar pertunjukan berjudul “Braga Aku Kembali” sebuah pagelaran di mana Wanggi membuktikan jatuh bangunnya dia tidak membuatnya menyerah untuk tetap menghidupkan dan mengenalkan pantomim pada masyarakat.
 
Tidak mudah untuk melakukan suatu pertunjukan pantomim, diperlukan latihan, meditasi, dan Yoga untuk melatih gerak tubuh. Pantomim bukan hanya untuk menghibur, melainkan suatu penyampaian pesan, suatu wadah untuk mengangkat kembali isu-isu sosial dan kemanusiaan yang telah dilupakan masyarakat.
“Manusia sekarang itu butuh selain yang enak, juga butuh yang enek. Nah di pantomim ini kita kasih yang enek. Karena mereka tidak akan mengerti, tapi kita tidak memaksakan mereka untuk mengerti. Karena di pantomim kita bermain imajinasi,” ujar Wanggi.

Pria kelahiran 24 Mei 1988 ini pun menjelaskan bahwa sejarah pantomim itu berat. Pantomim menurutnya adalah seni kebebasan yang bisa bermain diruang apa saja, dan bisa ‘memerangi’ para pembunuh zaman.
“Disitulah pertaruhannya. Dan pertaruhan saya adalah bagaimana membuat penonton tersenyum mengerti, bukan tertawa,” tutur Wanggi.

Harapan Wanggi ini hanyalah masyarakat bandung lebih mengerti dan menghargai pantomim. Pria lulusan seni teater STSI ini pun berharap pantomim tetap dapat menjadi alat perjuangan. “saya juga berharap bahwa suatu saat komunitas pantomim memiliki rumah proses sendiri yang independen tanpa campur tangan pihak-pihak manapun,” ujarnya kembali. (Nida Amalia Sholehah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FPIPS UPI)

Website : http://berita.upi.edu/?p=1409

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar